Serangkai Kisah di Pondok Quran #3

Rasanya melelahkan sekali. Setiap hari harus mengaji dan mengaji. Tak lupa maju untuk setoran dan terus mengejar setoran. Terlebih aku takut kalau-kalau Abah menegur ketika bacaanku salah. Ketakutanku yang luar biasa terhadap Abah yang mendorongku untuk mengaji dengan keras dan berjam-jam. Tak terasa lelah ini mengantarkanku pada hari ketujuh aku hidup di pondok.

Selepas solat maghrib, aku turun ke aula. Suasana di aula masih sepi namun ada beberapa santri yang berpakaian seragam jubah merah hati dan berkerudung baby pinkMereka sibuk mengumpul dampar-dampar ke pinggir aula. Sedang beberapa yang lain sibuk check sound dan memegang rebana. Aku mengambil duduk bersila di sisi tiang sambil menikmati pemandangan sekitar. Berangsur-angsur, suasana mulai ramai. Seseorang duduk di sampingku. Ia mengenakan kerudung berwarna sama denganku yakni hitam.

“Mbak yang kemarin dari Tulungagung kan?”, tanya seseorang itu selepas mengambil duduk di sampingku. Aku mengangguk.

“Kok tau?”.

“Kemarin kan kita sowan bareng ke Abah Yai. Masih inget?”.

“Oalaaaah inget kok. Kamu yg dari malang kan? Bukan orang luar kota.”.

“Iya betul sekali.”.

“Siapa namanya?”.

“Halimah. Lha pean?”.

“Itsna….”

“Eh ini seragam pondoknya. Ganti sekarang ya!”, salah seorang santri senior memutus perbincanganku dengan Halimah. Aku mengiyakan saja dan langsung beranjak ke atas. Sebenarnya aku sudah mengimbangi diri dengan baju gamis milikku yang kebetulan warnanya sama persis dengan seragam pondok. Tapi aku tetap menurut. Selang tak berapa lama aku kembali turun. Beruntung tempat dudukku belum diduduki orang lain.

Kami pun melanjutkan obrolan panjang nan lebar. Sampai acara malai ini dimulai dengan penuh kemeriahan tabuhan rebana dan suara merdu beberapa vokalis. Dilanjutkan dengan kehadiran Abah beserta wejangannya. Sosok Abah yang pertama kali kulihat bertampang begitu menakutkan ternyata mampu membuat seisi aula tertawa kecil dengan humor sederhana beliau. Ketakutanku pada Abah mulai membiasa. Ternyata Abah itu bukan sosok yang menakutkan. Beliau hanya tegas ketika menyimak setoran agar kita yang maju benar-benar menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Tapi di luar waktu setoran, beliau adalah sosok yang ramah dan bersahaja. Terlebih sebenarnya ketakutan itu demi kebaikan kita sendiri agar terdorong untuk meningkatkan kualitas hafalan baik dalam segi murojaah atau menambah hafalan. Acara pun ditutup dengan doa dan makan bersama di nampan.

Ternyata Halimah adalah perempuan berkerudung hitam yang tempo hari sowan bareng di ndalem Abah. Rupanya kita pernah bertemu sebelumnya.

Iklan

Secuil Peringatan

Tadi aku sedang asyik nderes. Kala itu, aku membaca juz 4 usai solat dhuhur berjamaah. Tepatnya adalah surat Ali Imron. Aku membaca perlahan dengan maksud agar tulisan ayat-ayat yang pernah susah payah aku hafalkan itu tidak terlupa. Saking pelannya membaca, kadang napas tidak kuat dan mengakibatkan bacaan salah. 

Ketika membaca satu ayat, aku benar-benar merasakan bahwa ayat yang kubaca salah. Aku pun benar-benar tahu dimana letak kesalahan yang kubaca. Tapi aku tetap melanjutkan membaca ayat tersebut hingga selesai. Baru saja ayat itu selesai kubaca, tiba-tiba seseorang di sebelah kananku duduk menegur. 

“Mbak yang ketika ketemu ro’ langsung dimasukkan.”, ujarnya padaku. 

“Ooh iya mbak.”, ujarku sambil meringis menahan malu. “Emang sengaja gak aku benerin bacanya hehe.”.

Aku baru sadar bahwa ada seseorang yang menyimak bacaanku. Pantas saja dia duduk diam setelah solat qobliyah dhuhur di jarak satu meter dari tempatku nderes. Dalam hati aku malu dengan Allah karena telah menyengajakan sesuatu yang salah. 

Begitulah Allah. Allah itu Maha Tahu tentang segala yang kita lakukan. Allah selalu mengawasi apapun yang kita kerjakan. Seseorang yang menegurku tadi, adalah cara Allah mengoreksi bacaanku yang salah dan sengaja tidak aku benarkan. Peristiwa sederhana ini cukup untuk memperingatkanku agar lebih berhati-hati dalam membaca kalam-kalam mulia milik Allah. Begitu juga menyadarkan diri kembali bahwa Allah itu memang Maha Melihat dan Maha Mengetahui segalanya. Jadi, kita perlu menjadi pribadi yang merasa diawasi oleh Allah agar tidak berbuat seenaknya. Termasuk ketika sedang mengaji. 

Ya Allah, maafkan Itsna yang nakal ini. Hmmmmm. 

Note: Di bawah ini adalah ayat surah Ali Imran yang kubaca salah dan sengaja tidak kubenarkan. Tepatnya pada ayat 101 ketika huruf ro’ tanwin seperti yang kugaris bawahi. 

Aplikasi Quran for Android

Rasa Kantuk ketika Beribadah

Aku bangun sekitar jam 3 dini hari. Sekalinya bangun, aku langsung menguatkan raga menuju kamar mandi. Mandi adalah hal pertama yang wajib dilakukan bagiku sebelum solat malam. Setelah bertarung dengan dinginnya air, aku melaksanakan sunah-sunah yang aku ketahui untuk mengisi sepertiga malam terakhir. Dilanjutkan dengan nderes tipis-tipis. Tak jarang dalam melaksanakan ibadah-ibadah sunah, rasa kantuk berdatangan. Ia menggoda siapa pun yang menggigit sunah dengan gigi gerahamnya untuk kembali membuai mimpi di atas pembaringan. Diri ini harus memutar otak melawan hawa nafsu mengantuk dengan berbagai cara salah satunya adalah nderes sambil berdiri dan jalan-jalan. Bisa juga dengan pindah-pindah tempat atau bercermin. Bisa juga nderes sambil ngemil. Intinya, aku berusaha sebisa mungkin agar meminimalisir rasa kantuk sebisa mungkin.  Continue reading “Rasa Kantuk ketika Beribadah”

Serangkai Kisah di Pondok Quran #2

Hari kedua di pondok. Hari ini adalah hari minggu.

Aku tersentak kaget. Abah Yai menghardik salah satu santri yang sedang setoran karena bacaannya salah. Subuh nan dingin di kota Malang ternyata tak seramah Abah Yai yang kulihat sekarang. Mendadak aku yang kala itu masih mengantre di barisan belakang langsung mundur ke belakang satir. Aku takut. Akhirnya setelah lama berpikir, aku mencoba maju dan mengantre di barisan lain.

Mekanisme setoran dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok sebelah kiri aula disimak oleh Abah Yai sedang kelompok sebelah kanan disimak oleh putra-putra beliau. Hal ini hanya terjadi setiap jadwal setoran pagi dan malam. Khusus sore, hanya Abah Yai yang akan menyimak setoran. Terserah bagi santri untuk memilih setoran kepada siapa. Continue reading “Serangkai Kisah di Pondok Quran #2”