Perjalanan yang Berakhir


Setiap orang ditakdirkan untuk pergi. Entah pergi kemana pun. Tak seorang pun diizinkan untuk menetap selamanya. Salah satu perjalanan pergi yang akan dialami setiap manusia adalah pergi dari kehidupan dunia menuju kehidupan yang lebih kekal.

Hari ketiga pasca lebaran, Ibuk mengajakku berziarah di makam ibunya atau nenekku. Kami mengendarai motor menuju pemakaman. Sengaja Ibuk memilih pagi hari sekitar pukul sembilan karena matahari telah bersinar namun belum terik dan menyengat.

“Putik, anak e kambek putune teko.”, ujar Ibuk seraya mengelus tanah di atas pembaringan ibunya. Selama hidup, kami memang terbiasa memanggil nenek dengan sebutan putik. “Ndang nduk wacakno yasin.”,

tambah Ibuk kemudian untuk memberiku perintah. Aku mengangguk.

Ada sedikit hal yang membuatku terusik. Yakni tentang kematian. Bahwasanya semua orang akan melaluinya walau entah kapan hal itu terjadi. Sepanjang aku membacakan surat Yasin melalui ponsel pintarku, anganku berkelana tentang putik. Apakah putik benar-benar mendengar lantunan yasinku dari bawah tanah? Seperti apa kehidupan putik sehari-hari pasca meninggalkan dunia yang sebentar ini? Apakah di sana menjadi tempat istirahat yang nyaman? Atau sebaliknya yakni menjadi jurang kesengsaraan yang tiada berujung hingga hari kiamat? Entahlah. Terakhir aku bersua dengan putik, beliau adalah sosok yang baik dan hangat. Entah seperti apa kebaikan yang pernah beliau tumpahkan untuk orang lain, kala itu aku masih terlalu kecil untuk menjadi saksi. Tapi, bukankah orang baik akan dibalas perbuatannya dengan segala kebaikan sesuai janji Allah?

“Uwes yo, Tik. Mugo-mugo padang kuburane, jembar dalane.”, kata Ibuk di hadapan makan putik seakan beliau benar-benar berbicara dengannya. Aku mengamini perkataan Ibuk. Aku dan Ibuk pun keluar area pemakanan menuju tempat motor kami terparkir.

“Buk, putik itu sosok yang luar biasa ya?”, tanyaku pada Ibuk untuk memecah keheningan di antara kami.

“Iyo. Luar biasa irit.”, jawab Ibuk diiringi tawa kecil.

“Lo kok ngunu to buk? Maksud e?”.

“Ya berkat putik irit, sembarang-barang jadi cukup. Uang jadi cukup dan bisa untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai lulus. Bisa buat beli rumah.”, sahut Ibuk seolah-olah beliau menerawang jauh ke masa lalu. “Padahal dulu bapak bingung waktu putik minta beliin rumah. Bapak bilang duit ko ngendi duit ko ngendi. Tapi putik bertekad punya rumah di pinggir jalan gede sampai jual emas.”.

“Pinggir jalan gede?”.

“Iyo soalnya biar anak-anaknya enak kalo pulang dari kuliah bisa langsung sampe rumah. Kalo rumahnya di desa kan harus jalan dulu setelah turun bis.”, jelas Ibuk secara lugas. Tanpa terasa aku dan Ibuk sudah di atas motor. Kami bersilaturahim sebentar di rumah sanak saudara tidak jauh dari area pemakaman.

“Iku mbiyen sawah e putik. Tapi dijual buat anaknya kuliah.”. kata Ibuk di atas motor. Kami dalam perjalanan pulang setelah silaturahim. Ibuk sengaja mengendarai motor melewati suatu jalan yang terdapat banyak lahan sawah di sisi kanan jalan.

“Oalaaah.”.

“Buat biayain bude Nanik penelitian dan skripsi.”.

“Emang skripsi ki butuh biaya to buk?”.

“Yo iyolah.”, jawab Ibuk sebagai akhir dari perbincangan kami pagi itu.

***

Setiap manusia yang meninggal sejatinya adalah sosok istimewa bagi beberapa manusia lainnya. Setiap kenangan akan membekas di hati orang-orang yang menyayanginya dulu ketika masih dengan lincahnya menginjakkan kaki di atas bumi. Setiap kebaikan yang pernah ia torehkan sepanjang masa hidupnya menjadi bibit kebaikan yang bersemi kelak dalam naungan janjiNya. Putik adalah sosok figur yang istimewa. Terlebih bagi anak-anaknya. Aku kagum dengan putik. Putik adalah sosok paling berjasa yang membentuk ibuku menjadi sekarang. Ibuk yang kulihat hari ini adalah sosok yang hebat dan cantik. Ibuk adalah wonderwoman yang bisa melakukan apa saja. Barangkali tanpa putik, tidak akan ada sosok Ibuk. Juga tidak akan ada pula sosok aku.

Perihal kematian, sudah sepantasnya kita memantaskan diri. Persiapan hidup bukan untuk masa depan keduniawian saja seperti karier, uang, istri atau suami, pendidikan, atau apapun itu. Masa depan penuh kepastian yang akan kita hadapi adalah kematian. Mengenai kapan waktu dan tempat maut menjemput ruh kita, itu tidak perlu kita risaukan. Paling penting saat ini adalah bagaimana cara kita menebar kebaikan di dunia agar bibit-bibit kebaikan itu bersemi indah di ujung penantian antara surga dan neraka. Tetap konsisten dalam kebaikan itu hingga di ujung kehidupan, kita ditakdirkan menjadi  sosok yang berakhir dengan baik. InsyaAllah.

Setiap manusia adalah sosok yang istimewa bagi manusia lain.

-Itsnahm

Makam putik

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s