Serangkai Kisah di Pondok Quran #1 – Prolog Ringan


“Mbak Hik, ojo boyong.”, ucap Halimah sehabis berdoa setelah solat. Ia langsung menjabat tanganku erat-erat Matanya berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian ia membenamkan wajahnya di punggung tanganku seraya menangis tanpa suara.

***

23 Oktober 2016 adalah salah satu hari bersejarah dalam hidupku. Setelah sekitar lima bulan menanti tanpa daya dan guna di rumah, akhirnya Abah menemukan pondok yang cocok untukku. Namanya PPTQ Nurul Furqon Putri Malang. Lokasinya strategis karena di tengah kota, juga di sekitar pasar. Jadi, untuk mencari kebutuhan hidup sudah gampang sekali. Abah, Ibuk dan kedua adikku mengantarkanku bersama menggunakan mobil. Begitu sampai di lokasi, langsung terasa hiruk pikuk pasar besar kota malang yang super. Banyak sekali orang dengan kesibukan masing-masing. Tak jarang terjadi kemacetan di sekitar pasar. Utamanya ketika ada mobil yang ingin memarkirkan diri di sana. Salah satunya adalah mobil keluargaku.

Kami sekeluarga langsung sowan ke Abah Yai pengurus pondok. Bel ditekan dan pintu ndalem langsung terbuka. Nampak sosok orang berkopyah putih dan berkacamata, Abah Yai. Beliau mempersilahkan kami semua duduk lesehan di atas karpet bulu warna coklat. Kami tidak berbincang banyak. Abah Yai hanya mengangguk dan mengiyakan Abahku karena sebelumnya mereka berdua sudah saling kenal dan sempat bertemu beberapa kali. Sesekali Abah Yai sibuk dengan telepon genggam jadulnya. Beliau nampak berkali-kali mencoba menelepon seseorang dengan sebutan “umi”.

Tidak lama kemudian, rombongan satu keluarga semacam kami juga datang. Merka terdiri atas ayah, ibu dan seorang perempuan berkerudung hitam namun berseragam. Aku tidak melihat jelas wajahnya. Aku hanya mampu mengamati sosoknya tanpa berpikir panjang.

“Larene niki tasek wonten lomba teng kampus. Dados mboten saget mlebet pondok sakniki. Mboten nopo-nopo nggeh? (Anaknya ini masih ada lomba di kampus. Jadi tidak bisa masuk pondok sekarang tidak apa-apa ya?)”, ujar ibu dari perempuan itu. Abah Yai mengiyakan. Tak berapa lama, datang seseorang ke ndalem Abah Yai.

“Assalamualaikum.”, ujar mbak-mbak berkerudung baby pink serta memakai gamis putih tulang.

“Sopo iku?”, tanya Abah dari ndalem. 

“Kulo, Bah.”, sahut mbak tersebut.

“Oooo. Iki, terno arek sing kate mondok ndek kene. (Ini, antarkan anak yang mau mondok di sini)”, ujar Abah Yai kemudian. Beliau memberi isyarat kepada keluargaku untuk bergegas. Kami sekeluarga pun undur diri. Mbak tadi langsung mengantar kami ke kantor pondok untuk keperluan administrasi. Setelah itu, Abah pamit mengeluarkan seluruh barang bawaanku dari mobil agar mempersingkat waktu. Tidak lama kemudian, keluarga perempuan berkerudung hitam itu datang menyusul kami untuk ke kantor pondok.

Aku dan Ibuk duduk menanti di kantor pondok sementara Abah dan adik-adikku bercengkerama di luar. Di kantor berukuran 1×2 meter itu, duduk pula perempuan berkerudung hitam dan ibunya. Kami sedang menanti pengurus demi keperluan administrasi. Sembari menunggu, ibuku dan ibunya langsung berbincang hangat. Ibuku memang tipikal cerewet dan pandai bergaul. Tidak sepertiku yang didominasi oleh sifat pendiam.

Setelah pengurus datang, proses administrasi pun usai. Tanpa sadar, mataku berkaca-kaca. Tidak kusangka jika mulai hari ini aku akan tinggal di sini. Rasanya masih mustahil mengingat inilah pertama kalinya aku akan tinggal jauh dari orang tua. Sedari dulu, aku sudah terbiasa di rumah.

Ibuk dengan gagah mengangkat koper menuju kamarku yang disediakan di lantai dua. Di antar oleh salah satu mbak pondok, aku melihat sekeliling. Semuanya masih nampak asing dan baru. Banyak sekali rak dilengkapi deretan buku-buku tebal di sana. Mbak-mbak juga turut berlalu lalang tanpa jeda di sepanjang mataku memandang. Ada yang sedang makan bersama, berbincang ringan, menonton film, bahkan tidur.

“Itsna masih pertama kali mondok. Jadi mohon bimbingannya ya mbak-mbak.”, ujar Ibuk dengan ramah. Aku dan Ibuk berjabat tangan dengan seisi kamar yang secara otomatis membentuk lingkaran karena kehadiranku dan Ibuk. Mereka inilah yang akan menjadi teman satu kamarku. Lalu, kami undur diri. Aku mengantar Ibuk turun. Kusempatkan diri untuk menengok ke belakang tepat di pintu kamar. Di sana tertulis “Aisyah binti Abu Bakar” dengan tulisan arab tanpa harokat.

“Lia… Kak Itsna udah gak sama Lia lagi.”, kataku sembari memeluk Lia yang saat itu masih berumur 4 tahun. Lia menerima pelukanku dengan heran sementara air mataku bercucuran deras tanpa bisa kutahan.

“Napa kok nangis?”, tanya Lia yang kebetulan sedikit bisa berbicara. Ia mempraktekkan beberapa kosakata yang sudah ia ketahui. Pertanyaan Lia itu disambut tawa renyah Abah. Aku masih tetap merasa sedih.

“Udah ya, Nduk. Ati-ati.”, ujar Abah kemudian. Aku pun bersalaman dengan Abah dan Ibuk. Kucium tangan mereka berdua dengan sungguh-sungguh. Ilham, adik laki-lakiku yang berusia 14 tahun itu rupanya diam-diam bersedih. Matanya berkaca-kaca ketika mengetahui fakta bahwa aku tidak akan berada di rumah dalam waktu yang lama. Mereka pun pergi. Melihat punggung-punggung keluargaku yang kian menjauh dan menghilang ditelan gang, air mataku semakin mengucur deras. Aku tidak langsung kembali ke kamarku di lantai dua melainkan langsung pergi ke kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya. Tanpa kusadari, keluarga si kerudung hitam mengamati tingkahku sedari tadi.

“Awakmu ojo koyok ngono lo, Nduk.”, ujar ayah dari si kerudung hitam. Si kerudung hitam hanya tersenyum simpul.

***

“Kamu asli mana?”, tanya salah satu mbak di kamarku ketika aku sibuk merapikan tumpukan baju-bajuku guna diletakkan di lemari. Ketika kujawab bahwa aku dari Tulungagung, ia langsung mengiyakan dan terlihat sedikit bingung. Aku langsung menyadari bahwa kemungkinan terbesar mbak itu tidak tahu tentang kota Tulungagung.

Namanya Mbak Bella, orang pertama yang mengajakku berbincang di kamar itu. Kami langsung mengakrabkan diri dengan berbagai macam topik perbincangan. Lebih tepatnya, Mbak Bella yang lebih banyak bercerita sedangkan aku lebih lama menjadi pendengar sekaligus memberi tanggapan-tanggapan ringan. Pasti mbak ini adalah orang yang aktif di organisasi, batinku kala Mbak Bella masih asyik bercerita.

Hari pertama di pondok bukanlah hal yang mudah. Aku masih asing dengan segalanya dan masih belum mengerti dengan sistem setoran hafalan. Ketika sore menjelang, salah satu mbak kamar mengajakku turun, aku pun ikut turun menuju aula. Rupanya, aula adalah tempat dimana setoran berlangsung. Rasanya ramai sekali. Hal ini membuatku bingung. Terlebih lagi, aku bingung dengan apa yang akan aku setorkan. Aku juga bingung ini nanti setoran ke siapa. Melihat santri-santri lain sedang sibuk nderes, aku mengurungkan niat untuk bertanya.

Abah Yai datang. Sejenak suasana hening, lalu riuh kembali oleh gema lantunan ayat suci Al Quran. Abah Yai duduk di depan dampar-dampar yang tersusun rapi di samping kanan kiri. Beberapa santri yang sudah hadir langsung maju dan menempatkan diri di samping kanan kiri Abah Yai. Aku hanya bisa bengong. Setoran berempat sekaligus?

Abah Yai nampak sibuk membuka sebuah Al Quran yang ada di hadapannya. Beliau terlihat fokus menyimak salah satu bacaan santri sembari menyimak bacaan tiga santri lainnya. Aku benar-benar heran. Ini adalah pertama kalinya aku melihat cara setoran hafalan seperti itu. Santri-santri yang di depan Abah Yai dengan gampangnya melantunkan hafalan mereka tanpa jeda dan kesalahan. Padahal jika dipikir-pikir kondisinya tidak kondusif. Bisa dibayangkan betapa konsentrasinya mereka terhadap apa yang dibaca. Karena ketika melantunkan hafalan dibutuhkan otak yang berpikir untuk mengingat ayat-ayat yang dibaca. Terlebih ketika Abah Yai mampu menyimak bacaan hafalan santri lainnya tanpa melihat mushaf. Cukup mengamati dan mendengarkan. Rasanya mengerikan.

Entahlah. Aku masih dalam kondisi heran. Alhasil, di hari pertama aku melewatkan dua kali waktu setoran yaitu sore dan malam.

bersambung di bagian kedua…

Iklan

Penulis: Itsnahm

Itsnahm a.k.a. Itsna Hikhmatul Maula. Reading and writing is my soul. So, enjoy to read all my writing here. Thank you.

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s