Semangat Cinta


H+4 lebaran. Mudik sejenak di kampung orang tua Ibuk yang hanya beda kabupaten. Sekembali dari mudik, cucian menumpuk pesat. Maklum, ketika lebaran aku terlalu asyik bercengkerama dengan keluarga besar yang maksimal hanya mampu bersua sekali dalam setahun. Mungkin saking asyiknya hingga membuatku lupa untuk melakukan kewajiban-kewajiban sebagaimana mestinya.

Mobil BMW putih kami melaju pelan melintasi kemacetan jalan. Aku sedikit lesu mendapati tumpukan baju kotor di bagasi mobil. Empat hari lebaran, cucian keluarga sudah menumpuk sebesar gunung merapi. Sekilas nampak papan-papan iklan terpaku di beberapa batang pohon. Iklan laundry. Sedikit tergiur. Namun segera kutepis hal tersebut. Ibuk pasti tidak menerima alasanku untuk mencoba laundry karena di rumah sudah ada mesin cuci.

Alhamdulillah. Seharusnya aku bisa bersyukur. Sebanyak apapun cucian, masih ada mesin cuci yang mampu mengaduk tumpukan baju kotor. Padahal tidak semua orang memiliki mesin cuci.

“Alhamdulillah Itsna keterima di Jember.”, ujar Ibuk kepada seorang teman yang kebetulan singgah di toko sejenak.

Entah sudah berapa kali Ibuk menceritakan hal yang sama kepada setiap orang baru yang beliau temui. Ibuk benar-benar senang karena aku diterima di perguruan tinggi negeri. Artinya aku bisa bersekolah kembali setelah satu tahun lamanya menjadi pengangguran di rumah sendiri. Selain itu, biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri bisa murah karena aku lolos seleksi tes tulis nasional atau SBMPTN.

Pukul 9 kami telah sampai di rumah. Ibuk langsung berkumandang bahwa beliau akan membuka toko dan bekerja. Sedangkan aku secara otomatis mencuci baju dan bersih-bersih rumah setelah empat hari ditinggal penghuninya. Aku sedikit heran dengan tingkah Ibuk. Begitu bersemangatnya beliau untuk bekerja. Padahal ini masih hari keempat pasca lebaran. Sebagian besar toko-toko pun meliburkan diri. Tapi Ibuk semangatnya tetap tak bergeming. Masih seperti dulu. Giat dan giat bekerja. Tapi kali ini sorot matanya agak berbeda.

Pancaran mata Ibuk seperti memaparkan semangat. Ada harapan-harapan besar yang beliau tuangkan lewat tatapan matanya. Harapan tentang diriku yang akhirnya bisa kuliah di universitas negeri. Menurutku, Ibuk sedang bersemangat mengejar target demi membiayai diriku kuliah. Entahlah. Semangat Ibuk nampak jelas lewat pahatan-pahatan wajah putih bersihnya. Dengan sigap, lincah dan profesional, Ibuk melayani setiap kebutuhan dan keinginan pembeli. Aku tersenyum simpul menanggapi kegiatan Ibuk hari ini.

Siapa sangka jika dari sebuah toko kecil yang menjual barang-barang elektronik itu bisa membesarkan tiga orang anak? Jadi, aku harus memiliki semangat menempuh pendidikan sebagai pancaran semangat Ibuk yang setiap hari bekerja demi menghidupiku. Semangat kuliah! 🙂

10858395_10203153358544775_3661477565808383778_n
Ibuk yang sedang menunggu toko. xD
Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s