Kebenaran dari Aku


wp-1495596542373.
From Xiaomi Wallpaper

Berbagi opini mengenai kehidupan setelah di pondok pesantren.

Pulang!

Siapa yang tidak menginginkan pulang setelah hidup sekian lama jauhnya dari kampung halaman. Entah mengapa, seminggu sebelum Ramadhan, aku ditakdirkan pulang karena suatu urusan.

Hari pertama setelah pulang, aku tidak bisa bangun tahajud. Alarm hp yang selama ini mampu membangunkanku pagi buta ketika di pondok, justru tidak mempan membangunkanku ketika di rumah. Aku memang terbangun. Mataku terbuka walau tidak seutuhnya. Namun, bangunku dari kesadaran hanya untuk mematikan alarm, lalu tidur lagi.

Hari kedua, aku kembali kehi;angan tahajudku. Aku memang terbangun dengan alarm hp. Namun, aku terbangun sejenak untuk mematikan alarm, lalu tidur lagi. Hari ketiga dan keempat juga bernasib sama. Aku benar-benar kehilangan tahajud, senjata terkuatku untuk mengarungi dunia, ketika aku berada di rumah.

Diakui betul, antara rumah dengan pondok memiliki suasana yang berbeda. Pondok pesantren memiliki suasana yang kondusif. Kita terbiasa dicengkeram oleh aturan terutama dalam masalah ibadah sunnah. Terlebih lingkungan yang mendukung seperti teman-teman satu pondok yang rata-rata disiplin dan rajin. Raga yang awalnya malas-malasan jadi terpengaruh hal positif yang dilakukan oleh orang-orang dan lingkungan sekitar.

Rumah, sejatinya adalah tempat ternyaman untuk kembali. Saking nyamannya, kita bisa melakukan apa saja yang kita lakukan. Termasuk bermalas-malasan yang selama ini tidak mungkin dilakukan di pondok pesantren. Di rumah nyaman sekali. Tidak ada aturan yang mengikat erat. Makanan rumah pun enak-enak jika dibandingkan dengan di pondok. Tak heran jika sedang di rumah, ibadah biasanya keteteran. Hawa nafsu yang lebih berkuasa dalam raga ketimbang hal-hal positif lainnya. Jadilah diri ini menjadi pribadi yang tidak produktif. Hanya makan, tidur, hpnan, malas-malasan, dan lain-lain.

Inilah aku, sebagai manusia yang diberi Allah akal untuk berpikir hingga mampu membuat studi banding antara kondisi rumah dan pondok pesantren dalam pengaruhnya pada jiwa dan raga seseorang. Konteks jiwa yang menyangkut keimanan dan ketekunan ibadah serta konteks raga yang meliputi produktivitas dalam melakukan kegiatan-kegiatan positif. Harus diakui memang, antara rumah dan pondok, pondok merupakan tempat terbaik dan paling baik untuk membentuk karakter jiwa yang produktif dalam beribadah serta selalu mengingat Allah setiap saat. Meski kata orang-orang pondok adalah penjara suci. Tapi yang terjadi adalah penjara suci inilah yang sebenarnya membimbing kita untuk berada di jalan yang benar dan lurus. Kenyataan yang terjadi adalah penjara suci inilah yang perlahan-lahan menuntun kita menuju surga. Meski sebenarnya kita lebih merasa terpaksa menjalani kegiatan-kegiatan di pondok beserta segala aturan yang menjerat. Hal-hal yang terpaksa inilah yang sebenarnya berdampak positif.

Rumah, dengan segala kenyamanannya, justru membuat kita terlena hingga lebih banyak bersantai daripada melakukan kegiatan yang positif. Bisa dibilang, rumah adalah dunia sebenarnya yang harus kita hadapi. Rumah adalah medan yang harus kita arungi setelah sekian lama menjalani kehidupan di pondok. Bagaimana kita sehari-hari tekun dalam ibadah atau yang biasa disebut istiqomah, selalu menjalani hari-hari tanpa rasa malas, membagi waktu antara ibadah dan kegiatan duniawi dengan tepat dan teratur, tidak menyia-nyiakan waktu, dan lain-lain. Kita tidak selamanya akan hidup di pondok pesantren. Pondok pesantren hanya memberikan kita bekal berupa pondasi-pondasi dasar hidup. Terutama dalam mengenal siapa tuhan kita dan bagaimana hubungan kita denganNya. Selanjutnya, kita akan pulang untuk menghadapi dunia yang sebenarnya dengan mengaplikasikan kebiasaan dalam pondok pesantren dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga dan masyarakat. Tidak melulu berkutat dengan urusan duniawi. Namun tidak juga terlalu larut dalam ibadah hingga melupakan lingkungan sekitar. Segalanya harus seimbang. Hablumunallah dan habluminannas*.

Inilah aku yang selalu berusaha untuk istiqomah tapi belum berhasil juga. Inilah aku ketika di pondok pesantren bisa rajin dan disiplin tapi ketika di rumah masih amburadul dan tidak bisa mengontrol diri dengan benar. Inilah aku yang sejujurnya lebih memilih untuk di pondok pesantren saja daripada pulang. Tapi, aku tidak bisa seegois itu untuk tetap di pondok lalu tidak menghiraukan betapa rindunya Abah Ibuk dengan anak gadis pertamanya ini. Aku sadar bahwa tidak selamanya aku akan hidup di pondok. Aku pasti akan hidup bebas dan terjun di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk belajar mengaplikasikan kehidupan pondok pesantren dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Tak lupa menyeimbangkan antara dunia dan akhirat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal kurang baik dari lingkungan sekitar. Seperti apapun kondisi lingkungan sekitar, entah itu kondusif atau justru cenderung negatif, aku harus tetap disiplin dan rajin atau dalam kata lain istiqomah. Ibarat ikan laut yang hidup di laut. Ia hidup di laut yang asin. Tapi dia tidak ikut asin.

*Hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.

Iklan

Penulis: Itsnahm

Itsnahm a.k.a. Itsna Hikhmatul Maula. Reading and writing is my soul. So, enjoy to read all my writing here. Thank you.

5 thoughts on “Kebenaran dari Aku”

  1. Pesantren, sama dengan penjara suci. Saya setuju. Hahaha. Yah, mungkin beda perspektif ya. Di mata saya, pondok pesantren itu segalanya terlalu teratur dan ada jadwal-jadwalnya. Terlalu, apa ya, kaku?

  2. Maaf,situ saja yang notabene “lulusan” pondokan masih juga terbuai sewaktu di rumah ,,,apalagi ane yang jarang ikut pengajian ,apalagi mondok ,,beuhh

    memang benar pondok hanya sarana pembekalan diri ,,,,setelah itu ,medan perang sebenarnya adalah “masyarakat”

    Semoga istiqomah 🙂

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s