Santri Khilaf


Pada suatu hari, Ibuk memberikan bukti cintanya berbentuk kiriman jatah bulanan. Ibuk mengabari saya lewat Whatsapp. Siapa yang tidak senang dengan kabar gembira semacam ini.

Hari ini, Jumat, merupakan hari libur pondok. Ketika saya sedang bersantai sejenak melepas kesibukan hafalan, teman sekamar, Intan, mengajak saya ke toko buku Gramedia. Mata saya langsung berbinar senang. Kebetulan saya sedang ingin membeli buku Reach Your Dreams karya Wirda Mansur. Sedangkan Intan hanya ingin membeli buku LKS demi kebutuhan sekolah.

Dengan penuh semangat, kami berdua berangkat pukul 10.00 pagi menuju alun-alun kota Malang. Gramedia memang dekat dengan alun-alun. Tepatnya berseberangan dengan Sarinah. Sebelumnya, saya mengambil uang kiriman dari Ibuk untuk persiapan membeli buku.

Buku yang saya cari dengan mudah saya dapatkan walau dengar-dengar buku Reach Your Dreams itu best seller. Di Gramedia, buku itu terlihat tinggal tiga biji. Dari jam 10.30 sampai dhuhur, saya dan Intan berkeliling antara satu rak ke rak lain. Banyak sekali buku-buku menggiurkan yang akan saya beli semua seandainya saya memiliki uang tak terhingga. Terutama novel-novel baik fiksi maupun nonfiksi yang seperti melambai-lambai untuk segera dibeli dan dibaca. Alhamdulillah, saya masih bisa menjaga hati dari rayuan buku-buku menarik yang berjejer. Saya masih ingat-ingat niat saya ketika menginjakkan kaki pertama kali di Malang.

Sedari awal saya berkeliling isi Gramedia, hanya Reach Your Dreams yang saya genggam. Baru ketika akan pulang, saya berpikir untuk membeli buku karya penulis bestseller Edy Zaques yang berjudul Bob Sadino, Mereka Bilang Saya Gila! Buku yang bercerita tentang sosok Bob Sadino walau saya masih belum mengenal siapa beliau. Sekilas buku ini menceritakan tentang tokoh yang menarik dan inspiratif. Barangkali saya memerlukan buku inspirasi lain selain dari Wirda Mansur. Alhasil, saya pulang dengan dua buku dan menghabiskan dana Rp152.000,-. Sebuah angka yang tidak sedikit bagi santri yang notabene jauh dari orang tua dengan keuangan perbulan. Beruntung saya tidak khilaf dengan memberi banyak novel dalam kondisi berlembar-lembar kertas merah tertata rapi dalam dompet.

Semoga kisah-kisah dalam buku ini menginspirasi saya.

Matahari telah bersinar terik dan suara khutbah jumat sudah terdengar dari Masjid Jami’ Malang. Rupanya solat jumat tengah berlangsung. Saya dan Intan memutuskan untuk membeli es krim di McDonal. Kami membeli masing-masing satu cup es krim seharga Rp10.000,-. Mahal sih tapi tidak papa sekali-sekali. Kami makan es krim di tempat. 

Duduk-duduk sekian menit di McDonal, lambat laun rasanya tergoda untuk bisa menikmati ayam juga seperti pengunjung lain. Saya dan Intan sudah berdebat dan bingung antara beli atau tidak. Apalagi kebetulan kami belum makan siang. Tapi satu paket berisi ayam, nasi dan minuman harganya pasti mahal. Apalagi bagi kami yang masih menjabat sebagai seorang santri. Kami melihat daftar menu dan mencari paket paling murah yang terpampang di atas kasir. Setelah berpikir panjang sembari melihat kondisi keuangan, kami benar-benar jadi membeli ayam walaupun dengan hati seperti teriris. Kami masing-masing menghabiskan Rp28.500,- demi satu paket berisi ayam, nasi dan lemon tea. Itu sudah paket termurah yang tersedia di sana. Siang ini kami berhasil menghabiskan Rp38.500,- hanya untuk satu kali makan. Sekilas imajinasi saya menerawang bahwa dengan nominal itu bisa digunakan beberapa hari jika dibawa ke pasar besar yang memang dekat dengan pondok. Bisa dapat makanan dengan porsi lebih kalau di pasar. Murah dan enak pula.

Nominal yang mahal untuk kami sebagai santri😂😂

Karena sudah beli mahal-mahal jadi makanannya harus dihabiskan. Sebagai tanda syukur juga. Hehe

Semenjak jauh dari orang tua alias mondok, uang terlihat menjadi begitu berharga di mata saya. Rasanya seperti sayang jika digunakan untuk membeli sesuatu yang dirasa kurang perlu. Alhamdulillah hari ini berhasil membeli sesuatu yang cukup bermanfaat. Dua buku untuk menambah ilmu ditambah makanan untuk memenuhi kebutuhan makan siang meskipun harga makanannya mahal dan terkesan berlebihan. Tidak perlu disesali. Untuk pengalaman saja. Jarang-jarang santri bisa makan mewah. Memang dasarnya sedang khilaf, jadi dalam sehari bisa menghabiskan uang hampir dua ratus ribu rupiah. Hehe.

Hari Jumat, hari libur pondok, memang menjadi sarana bagi santri untuk berbuat khilaf.

Iklan

4 thoughts on “Santri Khilaf

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s