Antara ه dan ك


PPTQ Nurul Furqon Malang memberikan warna tersendiri dalam perjalanan karier hafalan saya. Sebelum mondok, saya menyetorkan hafalan langsung dengan ustad atau ustadah secara empat mata. Ketika masuk pondok, saya dikejutkan dengan aksi setoran secara serempak empat orang sekaligus di hadapan Abah Yai. Empat orang ini melantunkan hafalan mereka secara bersamaan. Bahkan Abah Yai bisa menyimak sampai enam orang sekaligus. Saya bingung sekaligus heran. Bagaimana empat orang ini secara bersama-sama bisa membaca hafalan mereka dengan tanpa melihat mushaf. Bagaimana cara mereka untuk berkonsentrasi di tengah riuh bacaan teman di sampingnya. Belum lagi Abah Yai yang bisa menyimak banyak orang sekaligus. Sedang Abah Yai juga tidak sering membuka mushaf ketika menyimak santrinya. Entah bagaimana perasaan saya mengawali setoran di pondok ini. Setoran serempak dengan suara bacaan teman-teman lain yang bisa membuat hafalan buyar bila tidak berkonsentrasi. Semacam jor-jor suara dalam istilah jawanya. Dua bulan lebih hidup di sini, saya sudah terbiasa dengan sistem setoran seperti ini.

Suasana setoran hafalan Al Quran di PPTQ Nurul Furqon. Sumber foto dari salah satu santri

Mengenai setoran serempak, berbarengan, beramai-ramai, bersamaan atau apapun istilahnya, juga memiliki sisi lemah tersendiri. Seperti penyimak jadi kurang teliti dalam menyimak bacaan yang salah karena suara bacaan yang saling bersahutan. Dalam hal ini, saya sering mengalaminya. Entah harus menyesali atau malah bersyukur. Menyesal dan sedih karena kurang teliti. Atau bersyukur karena tidak terkena sentakan Abah Yai. Hehe.

Dua hari yang lalu, seperti biasa saya menyetorkan hafalan. Pada saat itu saya bertekad untuk setoran hafalan dengan sempurna. Maksud saya sempurna di sini adalah hafalan yang saya baca di hadapan Abah Yai nanti lancar dan tidak ada kesalahan dalam seluruh tanda bacanya. Akhirnya, dengan semangat kemerdekaan saya maju pertama dibarengi oleh tiga santri lainnya. Dengan lantang dan penuh percaya diri saya melantunkan Surah Hud ayat 20 sampai 28.

Ketika sampai ayat 24, saya melakukan kesalahan baca. Tepatnya pada kalimat أَفَلَا تَذَكَّرُونَ yang saya baca malah ‘afalaa tatadzakkarun’. Spontan saya langsung mengganti bacaan saya seperti seharusnya. Abah Yai mendiamkan saya. Begitu sampai pada ayat 27, tepatnya pada kalimat بَل نَظُنُّكُم كَٰذِبِينَ saya justru merubah huruf kaf menjadi ha’. Saat itu Abah Yai memandang saya tapi beliau membiarkan saya. Saya sadar betul bahwa bacaan saya salah tapi tetap saya teruskan karena takut lupa. Entahlah. Antara huruf ha’ dan kaf memang kadang salah ucap dalam menyetorkan hafalan.

Ya begitulah. Salah memang wajar dalam belajar. Salah juga pertanda bahwa kita sudah berusaha dan mencoba. Saya masih perlu banyak belajar dan belajar. Saya masih sering melakukan kesalahan. Terutama soal hafalan Al Quran yang tengah saya jalani. Bagi saya, tidak papa salah ketika menyetorkan hafalan. Yang terpenting saya mengerti dimana letak kesalahan saya. Tapi tetap kesalahan demi kesalahan diiringi dengan memperbaiki agar hafalan yang dimiliki semakin sempurna.

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s