Kangen Rumah



Terhitung sudah dua bulan lebih beberapa hari saya berada di Malang yang berjarak lebih dari 100 km dari kota asal, Tulungagung. Meski dalam rentang waktu tersebut saya sempat pulang selama seminggu, tapi rasa itu tetap ada. Sebuah rasa kerinduan. Rindu segalanya tentang rumah. Baik suasananya, orang-orangnya, semuanya. Ah! Memang dasarnya saya anak rumahan. Jarang sekali keluar rumah. Jadi, berkumpul di rumah bersama keluarga kecil sudah menjadi santapan utama sehari-hari.,
Sehari setelah Hari Santri Nasional, 23 Oktober 2016, saya resmi menjadi santri di PPTQ Nurul Furqon Malang. Ini adalah pertama kalinya saya bergelar santri. Ini juga merupakan pengalaman pertama saya menjejakkan kaki jauh dari rumah.

Awal masuk pondok diwarnai dengan tangisan. Bukan seperti tangisan yang menjadi-jadi melainkan sekadar menitikkan air mata karena harus benar-benar berpisah sama keluarga detik itu juga. Rasanya masih berat untuk berpisah dengan Lia, adik saya yang masih berusia 3 tahun. Saya selalu momong Lia di rumah jadi kedekatan antara kami berdua tidak perlu dipertanyakan lagi. Berat untuk sehari tidak melihat Ilham, adik laki-laki saya yang sering sekali berantem karena memperebutkan hal sepele. Berat juga untuk berpisah dengan Abah Ibuk tercinta dengan peran mereka yang begitu besar bagi saya. Yang awalnya setiap hari ketemu keluarga, tiba-tiba tidak bisa bertemu setiap hari. Rasanya sungguh berat.

Kesan pertama ketika menjadi santri? Saya merasakan banyak hal yang berbeda. Berkebalikan sekali dengan rumah. Kalau di rumah bisa santai bahkan malas-malasan, kalau di pondok harus giat dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Antara rumah dan pondok memang sama-sama tempat bersemayam. Namun mereka menampilkan figur-figur yang berbeda untuk kita. Kalau biasanya saya bisa bercengkerama dengan abah, ibuk dan adik-adik, kalau di pondok saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan wajah-wajah baru. Mereka semacam pengganti keluarga di rumah dengan menampilkan karakter masing-masing.

Saya mondok di pondok pesantren Al Quran. Seperti namanya, di sini pelajaran mengenai Al Quran adalah yang utama. Terutama soal hafalannya. Setoran tiga kali sehari yaitu pagi, sore dan malam. Karena pondok ini merupakan pondok khusus mahasiswa, masih diperkenankan membawa handphone, laptop dan sebagainya. Santri tidak harus sehari tiga kali full setoran karena kadang jam setoran berbenturan dengan jam kuliah. Namun target minimal absen terhitung setiap setengah bulan harus terpenuhi. Kalau tidak, bisa dipanggil langsung oleh Abah Yai.

Hidup di pondok masih dalam masa seumur jagung. Belum ada cukup pengalaman. Jadi masih belum memiliki cerita-cerita seru. Hehe.

Ketika hati sudah tertaut erat pada rumah. Entah senikmat apapun tanah perantauan, aku tetap ingin pulang. Entahlah. Karena rumah selalu menjadi tempat terbaik untuk pulang.
-Itsnahm

Iklan

4 thoughts on “Kangen Rumah”

  1. Halo dek Itsna, apa kabar? Q kangeeennnnn 😍😘😗

    Selamat menempuh hidup baru, eh maksudnya slmat mnempati tmpat baru. Mondok itu cita2 q dulu, tp ga kesampaian. Tenanglah, bertahanlah, hnya prlu mnyesuaikan diri beberapa hari sja, lalu semuanya akan kmbali normal, bhkan nnt akan bnyak pengalamn seru dan menyenangkan utk diceritakan dek. Semangat semangat semangat! 😊

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s