Beberapa hari yang lalu, tangan saya terluka akibat terkena pecahan beling. Tepatnya, pecahan beling tanpa sengaja menusuk ibu jari tangan kanan saya. Lukanya memang tidak parah, namun cukup untuk membuat saya merasa kesakitan.

Awalnya, saya merasa sedikit putus asa ketika jempol ini harus terluka karena tidak bisa ngapa-ngapain. Dibuat pegang ini sakit, dibuat membawa sesuatu susah, dibuat untuk menulis apalagi. Karena terluka, alhasil saya mengandalkan empat jari lainnya yang masih sehat. Rasanya semacam enggan beraktifitas karena merasa tidak bisa melakukan sesuatu ketika jempol sakit.

Hampir seminggu saya tidak menulis karena merasa tidak bisa memegang polpen. Namun, saya teringat akan tugas Sekolah Inggris dari kak Budi Waluyo yang belum saya kerjakan. Hingga ketika mepet akhir pekan, yaitu hari Sabtu, saya ngebut mempelajari dan mengerjakan soal-soal latihan Bahasa Inggris beserta soal-soal

harian yang sempat tertinggal. Ternyata, saya bisa memegang polpen dan bisa menulis meskipun jempol saya sedang terluka. Awalnya saya menulis dengan tangan kiri tapi karena sadar metode ini justru memakan waktu lama, akhirnya saya menggunakan tangan kanan. Ternyata saya memang masih bisa menulis meskipun salah satu jemari ada yang tidak beres.

Dari situ saya menyadari, bahwasanya saya terlalu membesar-besarkan sesuatu yang kecil. Padahal sebenarnya hal kecil tersebut tidak serta merta menghentikan aktivitas saya sama sekali. Nyatanya saya masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa walaupun rasanya sedikit enggan. Padahal yang sakit cuman jempol. Hehe.

Sama seperti kebanyakan dari kita. Kita selalu berpikir bahwa sesuatu yang menghalangi kita sekarang akan menghambat segala aktivitas kita. Padahal kalau disadari betul, sesuatu yang disebut-sebut menghalangi itu ternyata bukanlah hal yang besar dan serius. Hingga seringnya kita berhenti begitu saja dan tidak mau mencoba. Kita sudah lebih dulu berpikir kalau kita tidak bisa melakukannya karena dibatasi suatu hal. Padahal memang belum pernah dicoba.

Jempol yang terluka serta pengalaman hari ini mengajari saya akan satu filosofi penting kehidupan. Apapun halangannya, dicoba dulu saja! Masalah bisa atau tidaknya adalah urusan belakangan. Yang penting dicoba dulu. Karena jika kita sama sekali enggan melakukan karena merasa punya keterbatasan, maka kita akan kehilangan kesempatan  Entah kesempatan apa yang sudah terlewatkan hanya karena kita berpikir bahwa kita tidak bisa melakukannya. Padahal memang belum dicoba.

Begitulah kisah jempol saya yang terluka selama seminggu. Semoga dapat memetik lebih banyak pelajaran berharga terutama soal filosofi kehidupan..

tumblr_m21vunlzmc1rtonn4o1_500
From picturelava.com
Iklan

One thought on “Belajar Filosofi Kehidupan dari Tangan Terluka

  1. Mungkin kebanyakan dari kita memang sulit menghindar berpikir ‘lebih gawat’ dari yang seharusnya ya. Mungkin kita udah parno dan ketakutan jadinya udah kebanyakan mikir yang gak seharusnya. Mungkin banyak dari kita juga suka membesar-besarkan masalah ya.
    Mungkin, gak semua orang tahu bahwa dirinya seperti itu dan bagaimana mestinya menghadapi masalah yang baru pertama kalinya ya 😦

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s