Lebih Mengenal tentang Hutan Bunuh Diri di Jepang


Kemarin saya sempat melihat video review tentang hutan Aokigahara yang terletak di kaki gunung Fuji, salah satu tempat bunuh diri favorit bagi orang jepang. Sebuah hutan yang seharusnya hijau nan indah, justru menjadi destinasi terakhir seseorang untuk mengakhiri kehidupannya. Tak heran jika suasanya di hutan ini begitu aneh.

Video yang diunggah di Youtube pada tahun 2012 ini seakan mengajak kita untuk memasuki hutan Aoklgahara. Ditemani seorang patroli hutan bunuh diri, Azusa Hayano, kita dipandu untuk berkeliling di hutan bunuh diri ini. Sebelumnya, kita dapat melihat di area parkir betapa banyak mobil-mobil yang terparkir. Azusa memberi tahu bahwa para pemilik mobil ini memasuki hutan dan tidak pernah kembali. Berapa lama mobil terpakir di sana terlihat dari kondisi mobil yang lambat laun rusak. Saat berjalan di jalan masuk hutan, ditemukan sebuah papan yang berisi himbauan agar tidak melakukan bunuh diri. Ketika memasuki hutan lebih dalam, walaupun tidak ditemukan mayat satu pun, namun kita bisa melihat begitu banyak pernak-pernik yang sekiranya digunakan seseorang untuk bunuh diri. Di hutan Aokigahara ini banyak ditemukan tali-tali yang menggantung. Umumnya, orang-orang menggunakan tali untuk gantung diri di salah satu pohon di hutan. Tak jarang kebanyakan mayat ditemukan dalam posisi menggantung. Ada juga benda-benda lain seperti boneka, ransel, sepatu, botol-botol mineral, kaca, payung, dan lain-lain. Bahkan terdapat tenda yang masih berdiri tegak dengan tali yang tertambat di sudut-sudut tanah. Bahkan Azusa Hayano sempat bertemu tenda berdiri yang di dalamnya terdapat orang yang masih hidup. Dengan lembut, Azusa berbicara dengan seseorang di dalam tenda itu dengan harapan dia tidak jadi bunuh diri. Hutan Aokigahara memang bukan tempat yang biasa bagi orang untuk hiking atau jelajah. Kalau ada orang masuk ke hutan ini, kemungkinan terbesar ia ingin mengakhiri hidup.

Azusa Hayano bercerita bahwa dia pernah bertemu seseorang laki-laki yang masih muda di hutan Aokigahara. Mereka sempat berbincang santai hingga akhirnya laki-laki tersebut memilih untuk pulang dan tidak ingin mencoba bunuh diri lagi. Beberapa orang yang berkunjung di hutan ini ada yang merasa ragu ingin benar-benar mengakhiri hidup atau tidak. Beberapa potong kalimat yang diungkapkan oleh seorang seorang patroli hutan ini membuat saya tersentuh,

I think the way live in society these days has more complicated. Face-to-face communication used to be vital. But now we can live or lives being online all day. However, the truth of the matter is we still need to see each others face, read their expressions, hear their voice, so we can fully understand their emoticons to coexist.

Memang tidak bisa dipungkiri. Zaman sekarang interaksi antar manusia sebagian besar hanya dilakukan dengan menghadap layar hp alias chatting atau dengan sosial media lainnya. Hal ini berdampak pada gaya hidup individualis sehingga tak jarang membuat mereka yang terlalu overactive di sosial media sebenarnya merasa kesepian. Dengan dilanda berbagai masalah berat lainnya, tak jarang orang-orang lebih memilih bunuh diri.

Lagi-lagi soal sosmed. Entahlah. Terkadang sosial media bisa menjadi ajang bullying atau cyber crime sehingga tak jarang membuat sang korban menjadi depresi hingga berujung bunuh diri. Hal ini saking tidak kuatnya korban membaca dan melihat cercaan orang-orang di dunia maya. Padahal itu masih di dunia maya dan belum tentu terjadi di dunia nyata. (Sudah pernah dengar sih tentang kasus bunuh diri karena bully di sosmed tapi lupa dimana dan siapa).

Silahkan tonton sendiri video dokumentasinya di Youtube. Video yang diunggah pada 9 Mei 2012 dan sudah memiliki lebih dari 14 juta penonton ini sangat menarik untuk disimak. Video berdurasi 21 menit lebih ini juga bisa menambah sedikit wawasan kita tentang hal baru. Terutama tentang Jepang dan budaya bunuh dirinya.

Pesan : Jangan jadikan interaksi di sosial media menjadi yang utama. Tetap jadikan interaksi nyata sebagai hal utama untuk kenal dan dekat dengan orang lain. Dapat dipastikan berbicara langsung dengan orang lain akan lebih berkesan dan berharga dibanding hanya sekedar chatting. Hargai seseorang yang ada di depanmu dengan meletakkan hp dan mulai ajak berbicara. Literally, It has be reminder for me too hehe.

Iklan

4 thoughts on “Lebih Mengenal tentang Hutan Bunuh Diri di Jepang”

  1. budaya jepang memang sudah terbiasa dengan budaya bunuh diri tapi ya tidak semua itu harus berakhir dengan bunuh diri. Apalagi sampai menjadikan suatu tempat yang bisa dijadikan tempat wisata menjadi hororr

  2. Nice post. Saya selalu berpendapat, seberat apapun masalah kita, kita tidak boleh mengakhiri hidup kita sekehendak kita. Menyalahi takdir namanya. Selagi hidup berarti kita masih diberi kesempatan untuk memperbaikinya serusak apapun itu

    1. Iya. terutama lebih memikirkan kehidupan setelah meninggal itu penting. Mengenai apa saja yang perlu disiapkan. Karena dunia cuman sebentar. Yg abadi adalah kehidupan setelah meninggal. Jadi salah banget kalo bunuh diri bisa menyelesaikan segalanya. Justru setelah kematian, segalanya baru saja dimulai

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s