Lupa (yang hampir) Berujung Malapetaka


Pernahkah kamu lupa menaruh barang di suatu tempat? Atau lupa nama seorang teman lama yang baru saja bertemu? Itu masih belum ada apa-apanya dibanding lupa yang saya alami dua hari belakangan ini. Karena keteledoran saya dengan suatu hal bernama lupa, hampir-hampir saja mencelakakan orang lain. Alhamdillah Allah masih melindungi saya dan semuanya dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kamis, 21 Juli 2016.

“Halo kakak!”, suara Ibuk

nyaring di telepon. Ibuk tengah meneleponku menggunakan aplikasi Whatsapp. Dengan kata lain, Ibuk meneleponku secara online. “Panasin masakan tadi siang ya!”, sambungnya.

“Iya buk siap!”

Waktu itu aku sedang menulis buku harian setelah sekian lama tidak menulis apapun di sana. Karena lama tidak menulis, aku sedikit berpikir tentang apa yang ingin aku tulis di buku harian. Karena kekurangan ide, aku beralih ke hal lain dengan mainan hp untuk sekadar mencari inspirasi. Lebih tepatnya, aku sedang membaca lanjutan cerita The God of Highschool. Tak berapa lama, hape saya berdering. Rupanya Ibuk menelepon lagi.

“Kak aku kok dari bawah nyium bau gosong ya?”

Astaga! Aku baru ingat kalau sedang memanaskan makanan sedari tadi. Hapenan membuatku lupa waktu hingga tanpa terasa memanaskan makanan lebih dari satu jam. Air dalam makanan sudah mengering karena mengalami penguapan. Sayuran di dalamnya juga tak kalah kering. Panci wadah makanan tersebut juga menghitam karena terlalu lama berhadapan dengan api. Asap pekat khas dari kobaran api mengepul memenuhi ruangan. Buru-buru aku matikan kompor. Alhamdulillah hanya menuai korban makanan dan panci yang gosong. Selebihnya baik-baik saja.

Jumat, 22 Juli 2016

“Kakaaaaaaaak! Makaaaaam. Aku makam”, ujar Lia, adek kecilku yang berumur 3 tahun dengan gaya khasnya. Kosakatanya masih minim namum kemampuan berbicaranya makin lama makin terasah. Dia tengah menggangguku untuk berhenti membaca buku dengan permintaan ingin makan. Sebagai kakak yang baik, aku penuhi permintaannya.

Lia dengan semangat mengambil mangkuk kecil berwarna pink yang merupakan salah satu dari seperangkat alat makan untuk balita. Dia berjalan menuju magiccom dengan riang gembira diikuti aku yang berjalan di belakangnya. Aku mengambil nugget di freezer sekaligus mengambil nasi di dalam magiccom untuk Lia.

Kami berdua berjalan menuju kompor. Aku menyiapkan wajan dengan minyak goreng di atas kompor. Lalu aku menyalakan kompor. Lia memerhatikan aksiku bak pahlawan yang akan segera memberinya makanan dengan riang gembira sembari berteriak “Aku makaaaam” berkali-kali. Aku hanya gemas melihat tingkahnya.

Nugget yang kugoreng beberapa menit kemudian sudah berwarna kecoklatan tanda matang. Kutiriskan tiga potong nugget lalu kemudian kutaruh nugget tersebut di mangkuk makan adikku. Kami pun bergegas masuk kamar untuk makan. Seperti kebiasaan, aku selalu menyuapi Lia makan karena anak umur 3 tahun masih belum bisa makan dengan benar.

Lia nampak bersemangat sekali kusuapin. Aku menyuapi Lia sambil nonton tv dan mainan hape. Maklum serial komik The God of Highschool belum selesai aku baca dan membuatku penasaran. Sekilas Lia keluar dari kamar.

“Kakaaaaaak! Tuuuuuh!”, Lia berteriak memanggilku. Pertama tidak kuacuhkan. “Kakaaaaaak! Panaaaasss.”. Aku mengamati tingkah Lia yang memanggilku sambil jemari kecilnya menunjuk ke suatu tempat. Dari luar kamar, asap khas dari kobaran api terlihat mengepul. Aku langsung keluar. Ternyata aku tidak belajar dari kesalahan. Lagi-lagi aku lupa mematikan kompor. Kulihat kobaran api menyala-nyala dari atas kompor. Aku mengkondisikan Lia agar berada di tempat aman dari api dan asap. Buru-buru kumatikan kompor yang ternyata sudah menyala kurang lebih sejam yang lalu. Api dari kompor sudah mati tapi api terlanjur membakar di atas wajan berisi minyak goreng. Api menjilat-jilat liar sampai ke atap. Karena merasa tidak bisa mengatasi sendiri, aku langsung turun meminta bantuan Abah dan mas-mas karyawan yang ada di bawah. Aku turun sambil mendekap si kecil Lia erat-erat. Baru setelah Abah dan mas-mas selesai memadamkan api, aku dan Lia kembali ke atas sebentar untuk menghabiskan setengah potong nugget dan sesuap nasi yang masih tersisa. Untuk sementara kami tidak beranjak ke atas karena asap dari kobaran api masih memenuhi ruangan dan ditakutkan hal itu akan mengganggu pernapasan. Aku amat bersyukur karena Lia cepat tanggap mengetahui hal-hal yang tidak wajar alias tidak beres. Sejenak kupeluk dia dengan penuh rasa syukur.

Setelah kejadian tersebut, aku terdiam. Entah apa yang kupikirkan sampai-sampai menggoreng makanan lalu meniriskannya tapi lupa untuk mematikan kompor. Kejadian hari ini dirasa lebih parah dari kemarin karena api sudah terlihat ganas berkobar.

“Kami itu mikirin siapa sih?”, Ibuk geram mengetahui tingkahku. Aku hanya bisa meringis menyadari perbuatan teledorku barusan. Aku tidak merasa takut dengan kejadian lupa mematikan kompor hingga berujung kebakaran namun merasa sangat bersalah. Membayangkan jika aku terlambat menyadari adanya kebakaran, kompornya meledak hingga menghancurkan rumah lalu melukai orang-orang di dalamnya yang membuatku ngeri. Satu hal yang Ibuk katakan dan masih kuingat adalah,

“Kamu itu pinter tapi quick thinkingmu itu yang kurang. Kok lemot banget jadi orang diajak komunikasi selalu gak nyambung.”

Jleb. Rasanya aku pengen bunuh diri setelah mendengarkan apa yang Ibuk katakan. Hatiku menangis. Tapi mataku lebih menangis lagi karena sakit hati mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Ibuk. Kesalahanku memang fatal karena lupa mematikan kompor dan akibat dari lupa mematikan kompor juga cukup berbahaya dan berisiko tinggi.

“Gak usah panik..”, ujar Abah yang tiba-tiba merangkul bahuku dari belakang. “Lain kali jangan ngelamun dong.”, sambungnya lagi. Aku hanya tersenyum mendengar apa yang Abah katakan. Abah sama sekali tidak menyalahkanku karena bagi beliau aku sudah cukup dewasa untuk menyadari jika itu adalah kesalahan. Abah menghiburku dengan guyonan khasnya dan menasihati agar tidak diulangi lagi.

Abah dan Ibuk bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda. Abah itu sikapnya cuek dan lembut. Sedangkan Ibuk itu perhatian tapi kata-katanya terdengar pedas dan menohok. Aku tidak sedang mengunggulkan salah satu dari mereka. Mereka adalah orang tua terbaik. Dari Abah, aku bisa merasakan apa arti menghargai orang lain dan bagaimana rasanya percaya diri atas dukungan dari orang lain. Sedangkan Ibuk mengajarkanku dengan kalimat-kalimat pedas bagai cabai rawit semata-mata karena beliau amat perhatian padaku. Lagipula, tanpa Ibuk aku tidak akan merasakan betapa pedihnya diejek orang lain. Walaupun omelan-omelan Ibuk kebanyakan menyebalkan sekali untuk didengar.

Alhamdulillah Allah masih menyelamatkan kami lewat kesadaran Ibuk dan Lia. Alhamdulillah Allah masih menjauhkan kami dari bala’. Semoga ada pelajaran berharga yang bisa kupetik dari tragedi dua hari berturut-turut ini. Semoga saja.

Jangan lupa mematikan kompor.

Mungkin itu pelajaran berharga yang dapat kuambil saat ini.

 

Iklan

5 tanggapan untuk “Lupa (yang hampir) Berujung Malapetaka

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s