Lelahnya nungguin antrean pecel. Apalagi nungguin kamu.


Pukul 7 pagi, Ibuk berkoar-koar bahwa beliau merindukan nasi pecel. Ibuk ingin makan nasi pecel. Akhirnya, Ibuk merealisasikan impiannya tadi dengan menyuruh saya membeli pecel. Karena kota kecil saya sudah bertebaran warung pecel yang buka setiap pagi, jadi tidak sulit untuk mencari warung pecel terdekat. Apalagi lokasi rumah saya yang begitu strategis di tengah pusat kota. Yang susah adalah mencari warung pecel yang sepi pelanggan. Hampir semua atau bahkan semua warung pecel ramai pembeli.

Jam 7 pagi sudah saya anggap terlalu siang untuk mendambakan nasi pecel. Belum terlambat sih. Hanya saja warung pecel yang ramai sekali dengan antrean bejibun yang membuat saya males. Membayangkan bagaimana harus menunggu itu sudah capek. Apalagi kalau menunggu beneran. Namun demikian saya tetap memenuhi permintaan Ibuk.

Saya mengendarai motor untuk sampai ke warung pecel terdekat. Saya sampai di lampu merah dan berhenti di barisan paling depan. Iseng-iseng saya melihat kendaraan melintas dari depan. Sekilas saya melihat mobil BMW keluaran 1900-an berwarna putih yang sama persis dengan mobil keluarga saya. Seketika saya jadi teringat akan pengalaman masalalu saya yang begitu menyebalkan. Masih dengan tema menunggu, tentu saja!

***

Menunggu adalah kegiatan yang sulit untuk dijelaskan. Entah bagaimana cara saya menjelaskan bagaimana rasanya menunggu. Jenuh, sakit, nelangsa, patah hati, lelah dan sebagainya. Intinya, menunggu itu adalah suatu kegiatan yang tidak menyenangkan. Dalam garis takdir hidup saya, saya diharuskan untuk merasakan dan melakukan kegiatan yang sering disebut “menunggu”. Tepatnya adalah saya menunggu jemputan.

Sepanjang SMP hingga pertengahan SMA, saya selalu menunggu jemputan datang. Beruntung jika ada satu-dua teman yang bisa diajak menunggu bersama dengan kata lain mengobrol atau apalah. Beruntung jika ada satu-dua orang yang berkesempatan untuk menemani kita di sepanjang waktu menunggu. Bagaimana kalau tidak ada seorang pun teman? Hanya terduduk sendiri menunggu sesuatu yang tak kunjung datang? Bagaimana jika bahkan sesuatu yang kita tunggu nyatanya tidak pernah datang? Lelah sekali rasanya.

Sepulang sekolah, teman-teman selalu pulang dengan begitu cepatnya. Mereka sudah diizinkan oleh orang tua mereka untuk berkendara saat berangkat dan pulang sekolah. Lambat laun, sekolah menjadi sepi dan hanya tinggal saya seorang yang duduk menunggu. Saya merasa iri dengan mereka karena saya tidak bisa pulang sendiri. Berangkat selalu diantar. Pulang selalu dijemput. Alhasil, pulang sekolah adalah momen dimana saya harus merasakan sesuatu yang dinamakan “menunggu” setiap hari.

Suatu ketika, hujan turun deras tepat ketika pulang sekolah. Seperti biasa saya sedang menunggu jemputan. Saya duduk berteduh dari hujan sembari menunggu. Jemputan yang tak kunjung datang membuat saya semakin lama semakin bosan. Tidak ada hape untuk menelepon orang rumah karena pada saat itu peraturan di sekolah saya tidak diperkenankan untuk membawa hape. Suasana hujan dan dingin serta merta membuat saya mengantuk lalu tertidur dalam kondisi duduk.

Sayup-sayup, terdengar suara derum mobil menghampiri. Mobil BMW warna putih! Jiwa polos saya berkata bahwa itu adalah jemputan saya. Entah siapapun sopirnya. Hati saya sekejap jadi berbunga-bunga. Hujan yang kini tersisa rintik-rintik membuat saya tidak ragu untuk mendekati mobil jemputan. Mobil itu berkaca gelap jadi siapapun yang ada di dalamnya tidak bisa terlihat dari luar. Baru ketika saya sudah begitu dekat dengan pintu belakang dan ingin membukanyta, tiba-tiba mobil putih itu melesat pergi begitu saja. Meninggalkan saya yang masih terbengong-bengong tidak mengerti. Ada apa ini? Kok Itsna ditinggal? Gak jadi dijemput? Gumam saya dalam hati.

Saya pun kembali ke tempat duduk semula dengan tatapan lesu dan heran. Masih dengan keterkejutan dan rasa heran yang urung terjawab, saya duduk lagi. Menunggu lagi. Tidak tahu jam dan apapun. Hanya sepi yang saya tahu pada saat itu. Hari kian terbenam. Langit sore kian meredup apalagi ditambah dengan mendung yang masih bersisa. Sayup-sayup suara adzan berkumandang. Astaga! Ternyata sudah maghrib. Semenjak sore saya tidak dijemput juga. Ternyata oh ternyata. Orang rumah tidak ingat sama sekali dengan saya jadi saya tidak dijemput.

Bagaimana dengan mobil BMW putihhh itu? Ternyata mobil yang meninggalkan saya begitu saja memang bukan mobil keluarga saya. Warnanya memang sama. Merek dan tipenya juga sama. Tapi bukan berarti mobil tersebut hanya dimiliki keluarga saya seorang. Pikiran polos saya menyangka bahwa mobil BMW putih hanya dimiliki oleh keluarga saya saja. Tidak ada orang lain yang memilikinya.

Hari itu, saya merasa benar-benar sedih mengetahui semua fakta ini.

***

Setelah nyala lampu dari merah berganti hijau, saya melajukan motor hingga sampai di tempat tujuan, warung pecel. Begitu sampai, saya langsung disuguhi dengan pemandangan begitu banyak kendaraan terparkir. Banyak sekali. Begitu masuk, suasana begitu ramai dan penuh orang padahal warung pecel tersebut tidak begitu luas. Saya pun merasakan antrean panjang orang-orang yang ingin membeli pecel. Dua jam kemudian, empat bungkus nasi pecel sudah siap untuk dibawa pulang. Perasaan saya sangat lelah selama dua jam menunggu antrean.

Perjalanan pulang rasanya lelah sekali. Lelah karena sudah menunggu. Menunggu itu memang melelahkan. Bukan sekadar fisik yang lelah. Tapi hati ini yang merasa lelah. Memang sudah konsekuensi jikalau siapa cepat dia dapat dan membudayakan antre setiap kali ada kepentingan bersamaan dengan banyak orang. Saya tidak masalah dengan itu semua. Saya hanya capek karena menunggu. Aspal jalanan yang tergilas dengan ramainya deru roda pengendara dan pemandangan hiruk pikuk kendaraan melaju dengan tujuan masing-masing membuat otak saya merangkai sajak galau,

“Lelahnya nungguin antrean pecel. Apalagi nungguin kamu.”

-itsnahm

“Kok lama amat pulangnya?’, tanya Ibuk sebagai sambutan atas kepulangan saya.

“Anti buk antriiii. Ruame.”.

Saya rebahan di kasur sebagai ganti lelahnya menunggu selama dua jam. Sejenak saya melihat layar hape. Ada satu missed call dari Ibuk. Saya  teringat kalau hape saya memang sengaja ditinggal di rumah untuk di-charger. 

“Kenapa buk kok nelpon?”.

“Ya ibuk khawatir aja. Kok lama banget beli pecel belum pulang-pulang. Jalanan kan rame takutnya kenapa-napa di jalan. Waktu ditelpon eeeeeh malah gak bawa hape.”, jawab Ibuk sekenanya.

Inilah sesuatu yang kecil tapi berkesan sekali. Mengurai lelah menjadi kehangatan kasih sayang. Mengubah capek menjadi cinta. Ibuk lebih mengkhawatirkan saya dibandingkan khawatir tidak makan pecel hari ini. Rasa lelah saya dalam menunggu memang tidak sebanding dengan kasih sayang Ibuk selama ini. Bahkan tidak bisa dibandingkan lagi.

 

Credit photo from fundbox.com

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s