“Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku”


Sampai detik ini, aku masih menyukai hujan. Mungkin ada banyak sekali alasan yang melatar belakangi mengapa aku bisa sebegini cintanya pada hujan. Mungkin, kamu adalah salah satu alasannya.

Alkisah pada suatu hujan di malam hari, kamu terdampar dan terpaksa di rumahku. Hujan harus reda supaya kamu bisa pulang. Jadi, kamu harus menunggu hujan di rumahku. Betapa tidak masuk akalnya alasan ini sampai-sampai membuatku mencintai hujan? Tapi nyatanya, Allah seperti memberikan hujan agar kamu tertahan di rumahku. #geer #kebangetan

Namun, apalah gunanya hujan yang menahanmu di sini. Tidak ada biduk cengkrama di antara kita berdua. Berduaan memang tidak boleh. Aku pun pemalu orangnya. Jadi, aku hanya mampu menatapmu dalam hati meski kita seatap. Maaf! Jikalau Allah tidak melarang, jikalau peraturan ini tidak pernah ada, jikalau aku tidak takut akan murka Allah, niscaya aku akan mendekati. Berusaha ngobrol dan menceritakan banyak hal. Sayang, hal itu adalah bayangan semata. Ibarat ini pun sudah disebut dosa zina hati. Astagfirullah.

Maafkan aku. Meskipun hujan telah menahanmu di sini untukku, namun itu tidak pernah berarti apapun. Sekalipun Allah menahanmu di sini untukku, itu tidak berarti apapun. Cinta ini tak sepatutnya terjelaskan. Cukup hanyutkan saja segalanya dalam rintik hujan. Allah Maha Tahu akan rindu yang kurasakan. Biarkan saja Allah memapah jalan hidupku ke depannya.

Terimakasih hujan. Karenamu, ia tertahan di sini untukku. Terimakasih hujan. Dengan redamu, ia bisa kembali pulang dan melangkahi masa depannya yang masih panjang. Meski tidak menghasilkan apapun, segalanya tetap kukenang dengan ikhlas. Tak lupa untuk kujadikan pembelajaran berharga agar kelak cinta ini tetap suci sampai ketetapan Allah sampai, jodoh atau justru kematian. Entahlah.

Terimakasih Sang Maha Cintaku, Allah SWT.

“Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku.”

-Seseorang

***

Tulisan di atas adalah karya sastra saya yang dibuat ketika saya sedang galau berat. Tapi itu dulu. Dulu dan sekarang sudah berbeda. ūüėõ

“Mencintaimu seperti mendambakan hujan. Kau tidak bisa memintanya hanya turun di halaman rumahmu saja.”

-Tasha Bening Sabilla

Credit photo from www.triphobo.com

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s