Ba(l)ikan.


Malam ini saya tidak bisa tidur. Mungkin otak saya tidak mau diajak istirahat untuk memikirkan ide baru untuk menulis. Karena itu saya ingin berbagai cerita saya malam ini.

Awalnya, adek saya yang berumur 3 tahun, Lia, angun dari tidur. Dia sudah tidur nyenyak pada sore hari dan bangun saat maghrib-padahal dia sudah saya ajak tidur siang tapi tidak mau. Waktu dia bangun, saya sedang asyik menulis di blog. Antara tempat tidur Lia dan tempat saya blogging itu tidak satu ruangan. Alhasil Lia menangis keras sambil memanggil-manggil nama saya.

“Kaaaaak! Kakaaaaaaaaaak!”,

teriaknya dengan nada ngalem.

Saya dengan sigap bangkit dari meja komputer dan berlari menuju asal suara Lia terdengar. Lia nampak sudah duduk di tengah tempat tidur dengan wajah sok ngambek.

“Ayo sini! Ikut sama kakak!”.

“Emoh!”, jawabnya dengan nada ngambek.

Baiklah. Saya pun kembali ke ruangan sebelah untuk menyelesaikan tulisan saya.

“Kakaaaaaak! Kaaaaak!”, lagi-lagi dia memanggil saya. Begitu saya ke sana, dia justru tidak mau saya gendong. Saya pun kembali ke ruangan sebelah. Baru selesai mengetik beberapa kata, kejadian yang sama berulang kembali. Terus menerus seperti itu. Lama-lama saya jadi capek. Bingung untuk memahami apa maksud Lia. Akhirnya saya biarkan dia memanggil-manggil nama saya tapi tidak saya ladeni. Dia malah menangis. Tangisannya terdengar oleh saya tapi saya biarkan. Dia pun mengeluarkan senjata ampuh untuk membuat saya menghampiri dia. 

“Kaaaaak cucuuuuuuu!”. Okelah karena maksudnya jelas jadi saya buatkan sebotol susu untuknya. Setelah susunya jadi, dia malah menolaknya mentah-mentah. Saya hanya bengong. Apa yang diinginkan bocah ini? Gumam saya dalam hati.

Saya meletakkan botol susu di atas tempat tidur. Botol susu pun tidak disentuh oleh Lia sama sekali. Saya pun kembali ke ruangan sebelah untuk melanjutkan blogging. Lagi-lagi saya dipanggil. Saya menghampiri dengan pasrah. Ternyata dia ingin diambilkan botol susunya. Padahal botol susu itu kalau dipikir-pikir bisa dia ambil sendiri. Lha wong sama-sama di atas tempat tidur. Emang dasar ngalem! 

Saya pun kembali ke ruangan sebelah. Lia memanggil saya lagi. Capek rasanya. Akhirnya saya biarkan saja dia memanggil tapi tidak saya ladeni. Lama-lama dia menangis. Saya biarkan saja. Dia tambah keras tangisannya. Saya pun menghampirinya. Begitu saya datang, dia malah diam. Saya ajak ke ruangan sebelah bareng-bareng tapi tidak mau. Pusing deh mikirin Lia.

Mau tidak mau saya mengalah. Saya selesaikan tulisan saya dengan cepat dan mematikan komputer. Saya temani Lia di tempat tidur. Tapi dia malah semakin menjadi-jadi ngalemnya. Dia seperti minta sesuatu tapi tidak jelas maunya apa jadi saya berinisiatif untuk mengupas bawang merah. Saat asyik oncek-oncek, Lia mengambil semua bawang merahnya. Semacam isyarat kalau saya tidak boleh mengupas bawang. Tapi karena memang tugas dari Ibuk jadi saya rebut semangkuk bawang merah tadi dari Lia.

Lama-lama Lia ngelunjak. Bawang merahnya diambil satu-satu. Belum lagi Lia merengek tidak jelas. Saya pun marah. Saya pukul pahanya dengan tangan. Dia sempat berekspresi kaget sebelum akhirnya diam.

“Lia gak boleh nakal. Lak nakal tak jiwit!”.

“Udah!”, jawabnya sambil geleng-geleng kepala. Lia belum bisa bicara banyak jadi masih itu-itu saja kata yang keluar dari mulutnya. Saya pun diam sambil melanjutkan oncek-oncek bawang merah.

Lia merengek pelan. Tapi saya biarkan. Lia merengek lagi. Saya acuhkan. Dia mulai mengambil bawang merah yang sudah saya kupas, saya mengucapkan kata-kata yang sama.

“Lia gak boleh nakal! Kalau nakal tak jiwit!”. Saya pun kembali diam.

Sepertinya Lia tahu kalau saya lagi marah sama dia. Lia pun merubah sikapnya menjadi lebih lembut. Perlahan dia mendekati sambil memanggil-manggil saya. Tapi saya diam saja. Dia memanggil saya dengan lembut. Tapi saya diam saja sambil meneruskan pekerjaan yang sedari tadi belum selesai. Lia terus mendekati saya. Seperti ndempel, memeluk, memegangi tangan saya, dan duduk di dekat saya. Saya tetap pasang sikap cuek. Emang situ doang yang bisa ngambek? Haha.

Tiba-tiba saya teringat kalau Lia belum makan. Saya berjalan menuju dapur. Masih dengan sikap diam seribu bahasa. Lia mengikuti dari belakang. 

“Yuk makan nasi!”, ajak saya padanya. Lia langsung memberikan respon positif. Dia mau menerima ajakan saya. Biasanya sih ada aksi ngambek dan sok menolak gitu. 

Setelah ambil nasi sesuai porsi bocah umur 3 tahun, saya mengambil soto daging untuk menyuapi Lia. Lia pun makan dengan lahap sampai habis. Seperti sudah lupa kalau tadi marahan dengan saya. Akhirnya kita baikan juga ya. Saya sendiri tidak bisa marah dalam jangka waktu lama. Aksi saya yang diam ketika marah itu sebenarnya menahan diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Kasian Lia masih kecil. Hehe. Kita yang berantem pun akhirnya baikan. Kita juga balikan seperti kakak adek yang saling menyayangi atau entahlah kalau jadinya balik beranten lagi. Hehe.

Begitulah cerita tentang bocah berusia 3 tahun yang peka terhadap lingkungan. Ia bisa merespon apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Dia juga moody banget. Kadang tidak jelas maksudnya apa padahal kakaknya ini tidak peka dengan apapun. Dialah dek Lia!

Iklan

5 tanggapan untuk “Ba(l)ikan.

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s