“Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku”

Sampai detik ini, aku masih menyukai hujan. Mungkin ada banyak sekali alasan yang melatar belakangi mengapa aku bisa sebegini cintanya pada hujan. Mungkin, kamu adalah salah satu alasannya.

Alkisah pada suatu hujan di malam hari, kamu terdampar dan terpaksa di rumahku. Hujan harus reda supaya kamu bisa pulang. Jadi, kamu harus menunggu hujan di rumahku. Betapa tidak masuk akalnya alasan ini sampai-sampai membuatku mencintai hujan? Tapi nyatanya, Allah seperti memberikan hujan agar kamu tertahan di rumahku. #geer #kebangetan

Lanjutkan membaca ““Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku””

Iklan

Inspirasi untuk Menabung

Kemarin ketika lebaran, saya berkunjung di rumah mbah kung. Di sana ada saudara sepupu saya, Kak Syifa. Kami bercerita banyak hal karena sudah lama sekali tidak bertemu. Terlebih setelah Kak Syifa masuk SMA karena ia bersekolah di boarding school. Kak Syifa tinggal di pondok dan sibuk sekali dengan segala aktivitas yang ada di sana. Jadilah kami berbagi cerita tentang pengalaman-pengalaman satu sama lain. Pastinya Kak Syifa memiliki cerita lebih banyak dan berkesan dibanding saya.

Kak Syifa itu suka menulis. Menulis sudah semacam hobi baginya. Kemanapun Kak Syifa pergi, ia selalu membawa buku tulis. Buku itulah yang akan menjadi tempatnya berekspresi. Dengan buku dan polpen yang selalu di tangan, apapun pengalaman dan perasaan yang baru saja ia rasakan langsung ditulis di buku. Jadi selama dua tahun terakhir di pondok, Kak Syifa sering menulis buku diari. Bagi Kak Syifa sendiri, menulis adalah ajang untuk memahat peradaban. Wow. Keren ya. Lanjutkan membaca “Inspirasi untuk Menabung”

Ba(l)ikan.

Malam ini saya tidak bisa tidur. Mungkin otak saya tidak mau diajak istirahat untuk memikirkan ide baru untuk menulis. Karena itu saya ingin berbagai cerita saya malam ini.

Awalnya, adek saya yang berumur 3 tahun, Lia, angun dari tidur. Dia sudah tidur nyenyak pada sore hari dan bangun saat maghrib-padahal dia sudah saya ajak tidur siang tapi tidak mau. Waktu dia bangun, saya sedang asyik menulis di blog. Antara tempat tidur Lia dan tempat saya blogging itu tidak satu ruangan. Alhasil Lia menangis keras sambil memanggil-manggil nama saya.

“Kaaaaak! Kakaaaaaaaaaak!”,

Lanjutkan membaca “Ba(l)ikan.”