Kisah Puisi Tanpa Judul


Itsna sedang belajar untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Di depannya sudah ada satu modul tebal berisi soal-soal latihan dan satu buku kosong tebal untuk media coret-coret dan berhitung. Itsna begitu serius mengerjakan soal dan membolak-balik buku kosong sampai ia menemukan beberapa potong kalimat indah di bukunya. Mungkin potongan-potongan itu disebut dengan puisi.

 

Siapa sangka zaman tersirat

Bukan di bawah bayang merdu

Bukan sangkakala si pengingat

Bukan karang penanti ombak

 

Jiwa perantara

Bak tetesan kelebat malam

Mungkin tidak untuk itu

Dan cukupkan dengan sepintal cita.

 

Itsnahm – entahkapanpuisiinidibuat

***

Saya lupa sekali kapan tepatnya saya membuat puisi seperti di atas. Jika seorang penyair sejati memiliki dasar-dasar yang kokoh mengapa ia bisa sampai menulis syair-syair puisi terindah. Kalau saya hanya remaja labil dan dalam masa pencarian jati diri yang asal-asalan nulis puisi. Sok puitis. Mungkin itu dua kata yang tepat untuk menggambarkan diri saya hehe. Kadang kalau lagi galau bisa punya inspirasi kata-kata mutiara haha. Dasar anak remaja!

Jadi, saya ingat kenapa saya bisa sampai menulis puisi ini. Saya (terpaksa) menulis puisi karena desakan tugas guru Bahasa Indonesia. Tugas ini akan menjadi tugas akhir sekolah. Betapa saya bingung kalimat indah apa yg ingin saya tuang ke dalam puisi. Saya tidak sedang galau. Tidak juga senang. Biasa aja. Mungkin kalau kondisi hati sedang tenang malah tidak menemukan inspirasi menyusun kata-kata indah. Bila hati sudah bergejolak mungkin inspirasi itu akan ada. Mungkin.

Saya bukan penyair legendaris seperti Chairil Anwar. Karya-karya beliau sungguh luar biasa dan berkesan bagi hidup saya karena puisi-puisinya selalu muncul dalam soal latihan UN saya. Meski demikian, karya-karya beliau benar-benar indah. Baik indah dalam segi potongan-potongan kalimat yang tersusun ataupun indah secara makna yang ingin disampaikan. Chairil Anwar seperti meresapi apa yang ia tulis dalam setiap bait puisinya. Meski demikian, saya tidak berminat untuk mengikuti jejak beliau. Saya ingin menjadi sebagai Itsna yang suka menulis saja. Saya tidak bisa merangkai kata indah. Lagipula, puisi itu adalah semacam kode yang perlu diterjemahkan sendiri oleh pembacanya. Lhawong saya tidak bisa kode-kode-an. Saya kan gak peka. Hehe 😛

***

Kalau ada yang mau, silahkan terjemahkan makna dari puisi di atas. Saya selaku penulis puisi tersebut mengakui bahwa saya sendiri tidak paham apa yang saya tulis. Hehe

 

 

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s