Hadiah Terindah untuk Orang Tuaku


image

Copas – CATATAN GURU RANTAU : Tentang Masa Lalu, Kebencian, dan Orang Tua

Namanya Arif (nama samaran). Usianya baru menginjak usia anak kelas 4 SD. Perawakannya sedikit hitam, kurus dan kecil. Dari jauh, wajahnya terkesan kumal, kucel, dan menggugah rasa empati. Dalam menghafal Al Qur’an dia memiliki kesulitan tersendiri. Dua tahun di pesantren ini, dia masih juga belum beranjak dari kelas membaca Al Qur’an. Namun meski demikan, saya justru belajar banyak dari sosoknya tersebut.

Namanya Arif. Dan ini kisah ‘ajaib’ tentang dia.

***

Arif merupakan korban nyata dari keluarga ‘broken home’. Usianya masih sangat belia ketika kedua orang tua nya memutuskan untuk bercerai.

Ayahnya, yang kebetulan mendapat tanggung jawab untuk mengasuh kebutuhan Arif, justru malah menaruh Arif di sebuah panti asuhan di kota lain alih-alih merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Di panti asuhan tersebut, Arif tinggal bersama dengan anak-anak lain yang senasib seperjuangan. Dan kalian tahu, setiap pagi mereka dikumpulkan oleh pengurus panti, lantas dibekali dengan kaleng atau botol, kemudian disuruh mengemis dan mengamen di jalanan.

Hei, usianya memang masih kecil. Namun seusia itu, Arif sudah menanggung sekian banyak lika-liku cobaan hidup. Orang tuanya bercerai. Dia ditaruh di panti asuhan. Kehilangan kasih sayang keluarganya sendiri. Bertahan hidup dengan meminta-minta kepada orang lain di perempatan jalan. Merasakan kerasnya kehidupan jalan, padahal anak-anak lain seusianya masih asyik bermain petak umpet dengan teman sebaya mereka.

Namun meski demikian dia memiliki satu pemahaman hidup yang luar biasa. Dan inilah bagian terbaik dari cerita kita hari ini, kawan.

Pertengahan Februari lalu, pesantren kami mengadakan kegiatan kemah alam selama 3 hari 2 malam. Di malam terakhir, kami mengadakan acara api unggun. Dalam sesi tersebut, kami meminta setiap santri untuk maju ke depan dan bercerita lebih jauh tentang alasan mengapa mereka ke pondok, dan cita-cita mereka untuk 10 tahun mendatang di hadapan seluruh peserta kemah.

Satu per satu maju bergantian. Hingga tibalah giliran Arif. Ketika tiba di pertanyaan alasan mengapa di mau bersekolah di pesantren ini, Arif hanya menjawab dengan jawaban lirih:

“Saya ingin menghafal Al Qur’an 30 juz. Agar saya bisa membanggakan KEDUA orang tua saya”

Genap seusai itu, terdengarlah isak tangis dari dirinya. Semua hadirin hanya bisa terhenyak dalam diam. Para pembina yang turut mengetahui kisah perjuangan masa lalunya juga ikut terharu. Termasuk saya sendiri. Kami semua dapat merasakan ketulusan dan kejujuran dalam setiap jawaban kata-katanya barusan.

Betapa dia, di usia semuda itu, dapat belajar memeluk erat seluruh kenangan pahit masa lalunya dan berdamai dengan itu semua.

Betapa dia, dengan seluruh cerita kelam yang dia miliki, justru lebih memilih untuk tidak membenci dan menyalahkan siapapun atas takdir yang dijalaninya.

Arif telah menunjukkan kepada saya, betapa kebencian pada hakikatnya merupakan pilihan kita sendiri. Kita dapat mengambilnya atau bahkan membuangnya jauh-jauh, tergantung seberapa jernih hati kita masing-masing.

Saya percaya kalian semua memiliki masa kanak-kanak yang jauh lebih baik dari Arif. Itu artinya, orang tua kalian jauh lebih berhak untuk menerima rasa sayang dari kalian. Karena Arif, dengan seluruh perlakuan yang didapat dari kedua orang tuanya di masa lampau, ternyata tetap memilih untuk berbakti kepada keduanya, senantiasa mendoakan mereka, dan berusaha keras agar mampu menghafal Al Qur’an supaya dapat memakaikan mahkota kehormatan di atas kepala Ayah dan Ibunya pada hari kiamat kelak.

Maka, sayangilah orang tua kita sebelum semuanya terlanjur menjadi begitu terlambat. Sayangilah keduanya, agar jangan sampai di akhir hayat mereka kelak, mereka justru merasa menyesal telah melahirkan kita ke dunia ini. Sayangilah keduanya, bahkan meski itu adalah hal terakhir yang dapat kita lakukan di dunia ini.

*Ini adalah kisah nyata. Sangat nyata. Usia Arif saat ini adalah 11 tahun. Dan dia telah bersekolah di pesantren kami selama 2 tahun. Itu artinya, dia mas
ih berusia 9 tahun atau bahkan lebih muda dari itu ketika cerita di atas terjadi.

**Bagi segenap pembaca yang terketuk hatinya untuk ikut menyumbangkan donasinya demi perkembangan pendidikan anak-anak lokal seperti Arif dan kawan-kawannya di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Al Kautsar, dapat menghubungi saya di akun ID LINE chairulsinaga , atau pin BBM 59F802FB atau WA / SMS di 081 391 266 984.

***Sebarkan dan doakan. Semoga menjadi amal jariyah bagi kita semua. Allahumma Amin.

Iklan

1 thought on “Hadiah Terindah untuk Orang Tuaku”

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s