Sekarang atau Keburu Mati!


Sinopsis buku Sekarang atau Keburu Mati! karya Habibie Afsyah.

fuythfg
Cover depan buku. Ditulis sama Habibie sendiri.

Kemarin saya menyempatkan diri membaca buku tulisan Habibie Afsyah, Sekarang atau Keburu Mati. Buku ini menceritakan tentang kisah hidup seorang Habibie Afsyah yang aslinya seorang difabel. Ia terlahir sebagai difabel. Seumur hidupnya dihabiskan di atas kursi roda. Dari semenjak bangun hingga tidur kembali, ia butuh orang untuk membantu memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Bahkan ketika tidur pun, harus ada yang membantu Habibie untuk membalik tubuhnya. Hal ini menjaga kondisi Habibie supaya tetap nyaman.

Meski dalam kondisi yang serba terbatas, Habibie tidak pernah menyerah pada hidupnya. Ia tidak pernah berhenti dengan keadaan seperti itu. Habibie mulai mencoba bisnis di usia sangat muda. Tepatnya ketika masih SD. Dia merentalkan PS3 nya karena pada saat itu masih jarang ada anak-anak yang bisa bermain PS3. Dari situlah Habibie melihat peluang untuk menyewakan PS. Awalnya sedikit pengunjung. Lambat laun, banyak anak-anak yang rental PS. Karena PS hanya ada satu buah, anak-anak rela mengantri untuk bisa bermain. Karena kondisi, rental PS Habibie diatur jadwal supaya teratur. Rental PS akan tutup saat sore dan maghrib. Tujuannya supaya anak-anak tidak bolos ngaji dan solat berjamaah di masjid. Bisnis ini cukup menuai hasil yang tergolong banyak di mata Habibie waktu itu. Karena ada suatu hal, terpaksa rental PS itu ditutup.

Sedih melingkupi pikiran Habibie ketika rental PSnya ditutup. Dari situ Habibie tidak kehilangan ide. Ia berusaha mencari potensi dirinya. Apa yang bisa ia lakukan? Paling tidak adalah bagaimana dalam kondisinya seperti ini ia bisa mendapat penghasilan. Sebagai difabel, Habibie menyadari bahwa biaya hidupnya tidaklah murah. Ia harus memperoleh penghasilan agar tidak terus menerus membebani orang tuanya. Dariinternet segala sesuatu ia mulai.

Ketika lulus SMA, mama Habibie mendaftarkan Habibie untuk mengikuti seminar kilat dua hari mengenai bisnis online. Mama mendaftarkan Habibie dengan biaya yang tidak murah. Namun ketika mengikuti seminar kilat tersebut, Habibie merasa tidak sanggup menelan materi apa saja yang disampaikan. Habibie samasekali tidak paham. Selang beberapa waktu kemudian, mama mendaftarkan Habibie lagi ke seminar bisnis internet. Seminar itu berlangsung selama 30 hari dan tentu dengan biaya yang jauh lebih mahal. Habibie sempat mengatakan yang sejujurnya pada mama bahwa dalam seminar dua hari saja ia tidak mendapatkan hasil apapun. Apalagi seminar selama itu. Mama Habibie tidak pantang menyerah. Ia memberikan dukungan penuh untuk Habibie supaya mau mengikuti seminar tersebut. Mama mengatakan bahwa Habibie harus bisa melakukan sesuatu yang dapat membanggakan mama dan papa. Melihat kesungguhan mamanya, Habibie bersedia mengikuti seminar.

Dari seminar, Habibie mencoba mempraktekkan apa yang ia pelajari. Dari Amazon hingga Google Adsense. Jatuh bangun sudah dilaluinya seperti dibanned sepihak, minat konsumen menyusut, dan lain-lain. Namun dari perjuangannya itu, hasil yang didapatkan Habibie lumayan jumlahnya. Hingga sekarang, nama Habibie Afsyah dikenal sebagai pebisnis internet yang sukses.

Dari sini saya mengutip apa yang dikatakan seorang Habibie Afsyah dalam bukunya.

Jangan malu, jangan minder. Kita tidak mungkin diciptakan Tuhan tanpa kemampuan sedikit pun. Pasti ada kemampuan yang kita bisa dan itu mesti kita eksplorasi agar kita minimal tidak menjadi beban bagi orang lain. -halaman 124

Begitulah seorang Habibie. Keterbatasan tidak membuatnya menyerah pada deras laju kehidupan begitu saja. Meski dokter pernah memvonis usianya berakhir pada umur 25 tahun, Habibie tetap berusaha mengeksplorasi potensi apa yang sebenarnya ia miliki. Meski lambat laun hanya jempol yang dapat digerakkan. Namun otaknya tidak berhentu untuk digunakan berpikir. Otaknya masih berfungsi dengan baik. Itulah sekelumit pergulatan seorang internet entrepreneur yang sanggup menembus batas mimpi.

Selesai membaca buku ini, satu hal yang saya pikirkan adalah saya harus bersyukur. Dengan fisik yang sempurna, seharusnya saya bisa melakukan apapun semaksimal mungkin. Terutama dalam meraih mimpi dan cita-cita hidup. Kedua, saya termotivasi untuk semangat dan belajar apa yang saya senangi. Bisa jadi itulah bakat yang dapat saya kembangkan untuk dapat meraih cita-cita saya di kemudian hari. Jangan berpikir bahwa kita terbatas dan kita tidak bisa. Orang yang penuh keterbatasan saja bisa, apalagi kita?

 

 

Iklan

Satu respons untuk “Sekarang atau Keburu Mati!

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s