Pendidikan Agama untuk Anak? Pentingkah?


Pendidikan Agama untuk Anak? Pentingkah?

image

Beberapa minggu yang lalu saya sempat mengikuti pengajian dari salah seorang habib (yang saya lupa siapa namanya). Beliau memberi topik pembicaraan betapa pentingnya memberikan pendidikan agama untuk anak-anak kita.

Habib berkata bahwa selama ini pondok pesantren memiliki konotasi jelek yaitu dengan kalimat legendaris,

“Kamu kalau terus nakal nanti dipondokkan aja.”

Biasanya kalimat ini terlontar dari orang tua yang gemas melihat anak mereka yang urakan, nakal, salah pergaulan, dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan fenomena di masyarakat? Habib memberikan

pernyataannya bahwa banyak orang tua yang menggadaikan sawah, tanah, berhutang sana-sini, dan lain-lain supaya anak mereka mampu bersekolah setinggi-tingginya di sekolah yang dianggap memiliki sistem pendidikan terbaik. Tapi tahukah Anda bahwa tidak pernah terdengar kabar jika ada orang tua yang menggadaikan sawah, tanah, dan hutang sana-sini untuk membiayai anak mereka belajar di pondok? Subhanallah. Hal ini membuktikan bahwa masih banyak di antara kita yang lebih memilih urusan dunia dibandingkan akhirat. Padahal pendidikab akhirat itu penting guna mencapai kemaslahatan hidup di dunia.

Sang habib pun menceritakan kisah nyata tentang seseorang dari Jakarta. Beliau mendapatkan cerita ini dari salah seorang temannya yang juga seorang ulama. Berikut ceritanya.

***

Pada suatu hari seorang ulama mengisi acara pengajian di sebuah panti jompo paling elit se-Jakarta. Di sana, ulama tersebut menjelaskan betapa pentingnya pendidikan akhirat bagi kita terutama anak-anak kita sebagai pedoman hidup di dunia agar tidak tersesat. Setelah acara pengajian selesai, tiba-tiba ada seorang kakek tua yang berjalan mendekati sang ulama. Ulama tersebut mempersilahkan kakek ini untuk duduk di sampingnya. Kakek ini berkata untuk membenarkan betapa pentingnya pendidikan agama untuk anak-anak. Hal itu diikuti oleh cerita dari sang kakek.

Sang kakek ini dulunya adalah seorang pengusaha kaya raya dan terkenal. Perusahaannya lebih dari satu dan tersebar cabangnya di kota-kota besar seluruh Indonesia. Beliau memiliki empat orang anak. Semenjak kecil, kakek ini sudah mengajari anak-anaknya ilnu bisnis seperti bagaimana memanajemen uang, waktu, dan tenaga. Beliau memang sejak dini mendidik anak-anaknya untuk menjadi seorang pengusaha. Memilih sekolah pun tidak main-main. Sang kakek memilihkan sekolah terfavorit dengan sistem pendidikan terbaik yang dirasa bisa mendidik anak-anaknya menjadi cerdas. Baik dari sekolah dasar, SMP dan SMA semuanya bersekolah di sekolah favorit dengan biaya yang tidak sedikit. Kuliah pun mereka dipilihkan universitas-universitas terbaik di luar negeri.

Selesai menempuh pendidikan tinggi, keempat anak ini tidak dibiarkan begitu saja. Sang kakek mendidik mereka untuk mengelola perusahaan. Masing-masing anak diberi amanah memegang satu perusahaan milik ayahnya. Tidak hanya itu, sang kakek sudah dari awal berinvestasi dengan membelikan keempat anaknya masing-masing satu rumah.

Waktu semakin beranjak, dan usia kakek ini juga sudah tidak muda lagi. Istrinya sudah meninggal dan anak-anaknya pun sudah menikah dan menetap di rumah masing-masing. Kini beliau hanya tinggal sendirian di rumah dengan beberapa orang pembantu yang masih menyiapkan segala kebutuhannya. Lambat laun, ia merasa kesepian jika tinggal di rumah. Sang kakek pun menelepon anak-anaknya dan meminta untuk dapat tinggal bersama mereka. Namun apa jawabannya? Anak-anaknya semua menyatakan tidak sanggup menampung sang ayah di rumah mereka. Alasannya macam-macam mulai dari sibuk, capek, tidak ada waktu, ragu, dan lain-lain.

Betapa sedih dan hancur hati sang kakek. Ia pun tidak bisa melawan pilihan anak-anaknya dan tidak memaksakan keinginannya. Namun lambat laun keempat anaknya ini saling berseteru tentang siapa yang ingin mengurus ayah mereka. Bukan untuk memperebutkan hak asuh, tapi masing-masing dari mereka saling lempar tanggung jawab dan merasa dia tidak sanggup mengurus ayahnya. Akhirnya, didapati kesepakatan bahwa sebaiknya ayah mereka dibawa di panti jompo agar mendapat perawatan dan pengasuhan. Masalah biaya perawatan di panti jompo tersebut adalah hasil patungan dari keempat anak tersebut karena masalah finansial bukan suatu rintangan berarti bagi mereka.

Sang kakek menceritakan kisahnya ini di depan ulama sambil menangis. Ia tidak menyangka bahwa anak-anak yang selama ini ia sayangi dan diasuh sejak kecil kini hanya mementingkan urusan dunia dan tega “membuangnya” di panti jompo. Meskipun anak-anaknya telah memasukkannya di panti jompo paling elit, tetap saja sang kakek ini merasa “dibuang” oleh anak-anaknya.

“Andai saya dapat memutar waktu, saya akan mengajarkan pendidikan akhirat kepada anak-anak saya. Saya sangat menyesal karena hanya memberikan pendidikan dunia karena pada akhirnya mereka tidak ada yang mau mengasuh saya.”

***

Sang habib mengatakan bahwa jika anak-anak kita diberi pendidikan akhirat, mereka pasti akan mau menerima dan mengasuh kita walaupun keadaan mereka miskin dan serba kekurangan. Karena berbakti kepada orang tua adalah salah satu dari sekian banyak pendidikan akhirat yang penting untuk dikenalkan kepada sang buah hati sejak dini.

NB : Tulisan ini berdasarkan apa yang saya dengar. Saya tulis dengan bahasa dan kata-kata saya sendiri sebagai pelajar yang belum merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tua. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

Pendidikan akhirat = pendidikan agama.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Pendidikan Agama untuk Anak? Pentingkah?”

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s