Penyimpangan Semu Hukum Mendel


Penyimpangan semu hukum mendel ditandai dengan berubahnya fenotipe keturunan sehingga tidak sesuai dengan hukum mendel. Kalau pada Hukum Mendel II menghasilkan fenotipe dengan perbandingan 9:3:3:1, maka pada penyimpangan semu bisa muncul fenotipe dengan perbandingan 9:3:1, 13:3, atau bahkan 15:1. Berikut adalah jenis-jenis penyimpangan semu hukum mendel:

1. Epistasis dan Hipostasi
Suatu gen yang menutupi sifat gen lainnya yang tidak sealel disebut epistasis. Sedangkan gen yang ditutupi itu disebut gen hipostatis. Penyimpangan semu ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
1.a. Epistasi dominan
Epistasis dominan ialah gen dominan yang menutupi sifat gen lainnya sehingga sifat tersebut tidak muncul.
Contohnya adalah warna umbi lapis pada bawang. Gen A epistasis terhadap gen B dan b (artinya jika gen A bertemu dengan gen B atau b maka fenotipe B dan b akan tertutupi oleh A sehingga menghasilkan warna merah..
AAbb (merah) disilangkan dengan aaBB (kuning) menghasilkan F1 AaBb (merah). F1 dikawinkan dengan sesamanya akan menghasilkan fenotipe dengan perbandingan 12:3:1

1.b. Epistasi resesif (gen resesif menutupi gen lain yang tidak sealel).
Contohnya adalah warna rambut pada tikus. Gen cc epistasis dengan A dan a (gen cc yang resesif akan menutupi fenotipe gen A dan a). CCAA (hitam) disilangkan dengan ccaa (putih) menghasilkan F1 CcAa (hitam). Perkawinan dengan sesamanya akan menghasilkan keturunan dengan fenotipe 9:3:4.

1.c Epistasi dominan dan resesif (gen dominan dan resesif menutupi gen lainnya.)
Epistasis jenis ini bisa dikatakan ada dua gen yang mampu menutupi sifat gen lain yaitu gen dominan dan resesifnya.
Contohnya adalah bulu ayam leghom. Gen I epistasis dengan C dan c serta gen cc epistasis dengan gen I dan i. CCII (hitam) disilangkan dengan ccii (putih) menghasilkan F1 CcIi (putih). F1 jika dikawinkan dengan sesamanya akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotipe 13:3.

2. Kriptomeri
Kriptomeri adalah munculnya sifat fenotipe baru jika dua gen dominan saling bertemu. Misalkan bunga AAbb (merah) disilangkan dengan aaBB (putih) akan menghasilkan F1 yaitu AaBb yang berwarna ungu. F1 ini jika disilangkan dengan sesamanya akan menghasilkan keturunan dengan berbandingan fenotipe 9:3:4 (perbandingan yang sama dengan epistasi resesif).

3. Polimeri
Contoh polimeri ini adalah persilangan tanaman gandum berbiji merah gelap (M1M1m2m2) dengan gandum berbiji putih (m1m1m2m2) menghasilkan keturunan F1 yaitu M1m1M2m2 (merah sedang). Perkawinan F1 dengan sesamanya akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotipe 15:1

4. Gen-Gen Komplementer.
Penyimpangan ini terjadi karena adanya gen homozigot resesif yang menyebabkan fenotipe menjadi tidak normal. Sedangkan ketiadaan gen homozigot resesif membuat fenotipe muncul dengan sifat normal.
Contohnya adalah persilangan bungan CCpp (putih) dengan ccPP (putih) menghasilkan F1 CcPp (ungu). Jika F1 disilangkan dengan sesamanya akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotipe 9:7

5. Avatisme
Penyimpangan avatisme ini terjadi karena hilangnya sifat induk di keturunan pertama (F1) namun sifat induk ini akan muncul di keturunan selanjutnya (F2). Contohnya adalah persilangan ayam berpial rose (RRpp) dan ayam berpial pea (rrPP) menghasilkan F1 yaitu ayam berpial wallnut ( RrPp). Jika F1 disilangkan dengan sesamanya maka muncul keturunan walnut, rose, pea, dan single memiliki keturunan 9:3:3:1.

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s