Sajak untuk Mama – Kerinduan Seorang Putri terhadap Ibundanya


rhbc_prod438081
From http://www.rhbabyandchild.com

Jauh, tapi nyata dan ada. Bukan fatamorgana, apalagi ilusi belaka. Kasihnya terasa hangat menyelimuti jiwa yang rapuh. Doanya tak pernah berhenti mengalir, menyejukkan jiwa, mengokohkan setiap asa yang ada.

Tak butuh remahan roti, anak panah, maupun petunjuk jalan untuk mencari cahaya rembulan sepertimu, ma…

Karena engkau ada di sini, selalu di sini, dan memang di sini.

Mungkin, darahmu masih mengalir di setiap pembuluh darahku. Bagaimana bisa aku harus mencarimu dulu?

Karena engkau ibuku. Malaikatku.

Memandangmu, bagaikan obat penyejuk hati.

Membuatmu terharu, tersenyum, dan bahagia adalah surgaku.

Tapi bukan berarti aku tak pernah membuatmu kecewa, marah, sedih ataupun menangis.

Maafkan aku ma, karena aku tak pernah menjadi malaikat untukmu.

Maafkan aku ma, karena aku tak bisa menjadi qurotul a’yun bagimu.

Maafkan aku ma, karena akulah penyebab jatuhnya air matamu.

Maafkan aku, maafkan aku.

Milyaran, bahkan triliyunan jam kulalui bersamamu, hingga aku berada di bumi ini selama enam belas tahun.

Aku tak akan menutup mata atau menyumbat telinga untuk mendengarkan kisahmu saat mengandungku, merawatku, membesarkanku, susah senang perjalanan hidupmu dan pahit manis takdir mempermainkanmu.

Semuanya, dan akhirnya aku sadar.

Betapa besarnya kasih sayangmu, kesabaranmu, pengorbananmu.

Tak bisa kuhitung berapa liter air mata yang kau teteskan untukku.

Karena engkau ibuku, kunci surgaku.

Hingga akhrinya, kau menuntunku dan melepaskanku untuk mengenal Yang Satu.

Menggapai cintaNya, ridhoNya serta mendapat cahayaNya.

Aku yakin, betapa banyak pun air mata yang kukeluarkan di sini karena merindukanmu, tak sebanding dengan banyaknya air matamu saat merindukanku.

Di jarak yang tak dekat seperti sekarang ini denganmu ma, hanya doa yang bisa menjadikan kita dekat.

Terimakasih ma, karena engkau selalu mengajakku ke jalan Sang Maha Satu.

Jalan yang takkan ada kesesatan di dalamnya.

Jalan yang menuntun ke surga Firdaus, yang kelak akan menjadi rumah kembalimu ma…

Terimakasih ma, karena telah mencintaiku dengan sebening-beningnya cinta.

Yang takkan ada orang yang bisa menyamai beningnya cintamu padaku.

Terimakasih ma, karena telah mengajariku banyak hal tentang kesabaran, pengorbanan, keteguhan serta keikhlasan.

Yang selalu menjadi pedoman hidupku.

Terimakasih ma, karena telah mau mengandungku dan merawatku.

Dimana tak ada upah yang kau harapkan.

Namun, engkau selalu berharap agar putri yang kau kandung dan rawat kelak menjadi wanita sholelah seperti Sayyidina Fatimah.

Terimakasih ma, karena telah rela menjadi ibu seorang seperti diriku.

Percayalah, aku selalu bangga menjadi putrimu.

Aku selalu bersyukur karena Allah tlah menitipkanku pada rahimmu.

Disaat di dunia yang gelap, dalam rahimmu, aku hanya melihat cahayamu.

Bahkan, sampai sekarang.

Cahayamu semakin terang untuk menerangiku.

Terimakasih ma untuk segalanya.

Segala yang kau beri dan korbankan untukku.

Kemarin, engkau menyuruhku menyabut sehelai ubanmu.

Tahukah ma, ada perasaan nyeri saat melihatmu beruban.

Tandanya, engkau tak lagi muda.

Dan aku, belum memberikan apa-apa.

Lagi-lagi, hanya doa yang bisa kupanjatkan pada Sang Maha Kuasa.

Agar Ia memanjangkan umurmu serta merahmatimu selamanya.

Mama.. Uhibbuki. Aku mencintaimu selamanya. Selama darah terus mengalir dalam pembuluhnya dan selama Allah berkuasa atas ruh-ruh yang ada dalam genggamannya.

 Putrimu

Tasha Bening Sabilla

***

Ini adalah sajak karya salah seorang teman saya, Tasha. Saya hanya spechless membaca apa yang ia tuang dalam sehelai kertas folio empat. Rasanya seperti ikut hanyut dalam keindahan kata-kata yang terangkai indah untuk mamanya. Dalam sajak ini pula, Tasha sedang menggambarkan rasa rindu pada mamanya. Terharu, sedih, campur aduk juga rasanya. Apalagi membayangkan Ibuk saya. Benar! Saya masih belum memberikan apapun kepada ibu.

Sajak ini saya bagikan adalah untuk motivasi diri pribadi dan semua yang turut membaca. Agar kalian sebagai generasi muda terus dalam semangatnya meniti tangga kebahagiaan ibu. Ibulah malaikat kita. Berikan segala yang kita mampu untuk membahagiakan ibu walaupun apapun yang kita lakukan tidak akan sebanding dengan jasa-jasanya.

Semoga saya jadi lebih bersemangat dengan sajak ini. :’)

NB: Saya sudah izin dengan penulis sajak ini untuk dibagikan ke blog saya. 😀

Iklan

Satu respons untuk “Sajak untuk Mama – Kerinduan Seorang Putri terhadap Ibundanya

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s