Generasi Copy Paste


From lifehacker.com
From lifehacker.com

Saya teringat pada salah satu pengajian yang saya ikuti pada Minggu, 20 September 2015. Nasasumber adalah orang asli Tulungagung. Hanya saja beliau sudah melalang buana ke luar kota guna menyelesaikan studinya hingga bergelar doktor. Sayang saya justru lupa mencatat namanya. Jadi, kita sebut saja ‘beliau’.

Waktu itu, beliau membahas masalah perbedaan generasi. Terutama generasi orang tua dengan anak. Tidak dapat dipungkiri bahwa dulu dan sekarang memang berbeda. Seperti pada generasi orang tua yang ‘dulu’ dan generasi anaknya yang ‘sekarang’. Beliau mengatakan bahwa anak-anak kita kelak akan melihat dunia dengan cara pandang yang berbeda. Bisa jadi akan sangat berbeda dari kita yang sudah lebih dulu menjejaki kehidupan. Karena faktanya, dunia yang terlihat saat zaman anak-anakmu sudah memiliki rupa yang berbeda. Contoh sederhananya adalah keadaan dunia pada tahun-tahun abad ke-9 dimana komunikasi masih berupa media cetak. Kita dulu menganggap bahwa komunikasi dengan orang jauh itu sulit. Coba bandingkan dengan wajah dunia abad ke-21 yang menjadi era perkembangan IPTEK yang pesat. Anak-anak kita akan melihat dunia pada saat ini yang dipenuhi oleh kemudian akses informasi. Berbeda dengan kita sebagai generasi abad 9 akhir menuju abad ke-21.

Beliau menceritakan kisahnya. Dulu, beliau sering membantu pekerjaan kyainya semasa di pesantren. Pada suatu hari pak kyai sedang menyapu halaman depan pesantren. Dengan inisiatif pribadi, narasumber dengan sopan meminta untuk melanjutkan apa yang dilakukan pak kyainya. Hal ini saat biasa terjadi. Dibandingkan dengan sekarang yang lemahnya inisiatif dan kepekaan terhadapsesama.

Contoh yang narasumber berikan berasal dari anaknya sendiri. Pada suatu hari beliau menyapu kemudian mengepel lantai ruang tengah. Di sana ada anak perempuannya yang tengah asyik menonton televisi. Beliau sempat heran mengapa anaknya tidak ada inisiatif untuk membantunya tapi justru malah asyik sendiri. Ketika konsultasi dengan seorang teman, teman itu justru menyalahkan narasumber yang mengeluhkan sikap anaknya yang cuek.

“Anakmu itu bukan hidup di zaman dulu. Anakmu itu adalah generasi sekarang.”, ujar temannya itu.

“Terus apa yang harus aku lakukan?”.

“Lebih baik kamu buatkan jadwal. Semacam piket kebersihan di rumah. Insyaallah pembagian tugas ini akan berguna bagi mereka.”.

Narasumber melakukan apa yang dikatakan temannya tadi. Anak-anaknya pun bisa mengetahui apa yang harus dikerjakan ketika sudah diberi jadwal piket. Narasumber menjadi lebih mengerti bagaimana perbedaan generasi sekarang dengan generasinya dahulu. Memang berbeda.

Narasumber kembali menceritakan tentang seorang temannya. Ia adalah seorang guru yang telah mengajar dari era 80an hingga era 20an ke atas. Pada suatu hari guru ini memberikan tugas kliping pada murid-murid yang diajarnya pada tahun 2013. Dengan cepat, murid-murid ini mampu menyelesaikan tugas kliping dengan baik. Sang guru pun memuji hasil tersebut sembari terkagum-kagum karena betapa rapi dan lengkap informasi yang terdapat dalam kliping tersebut. Ketika sang guru bertanya darimana mereka mendapat kliping-kliping tersebut, mereka dengan mudah menjawab bahwa semuanya sudah ada di internet.

Sekarang memang sudah era digital. Jika dibandingkan dengan dulu, untuk mencari informasi, orang-orang harus pergi ke perpustakaan atau membaca koran. Karena pada saat itu hanya media cetak yang menjadi sumber informasi selain dari radio. Untuk membuat kliping saja, seseorang harus pergi mencari informasi dari buku, majalah, atau koran untuk digunting, lalu dikumpulkan. Berbeda jauh dengan zaman sekarang, era digital. Untuk medapat informasi saja, kita tinggal duduk manis dan membuka akses internet. Semuanya sudah ada di internet. Bahkan saking tersedianya semua informasi, ada yang baik dan ada pula yang buruk.

Begitulah zaman sekarang. Semuanya bisa di copy lalu langsung paste begitu saja.

***

Senin, 12 Oktober 2015.

Tanpa sengaja saya menemukan siapa narasumber yang menceritakan kisah-kisah di atas. Beliau adalah Prof. Dr. Dawud, M.Pd. Seorang guru besar UM.

Iklan

3 respons untuk ‘Generasi Copy Paste

  1. semua karena perkembangan teknologi. tappi seharusnya nggak semua di terima, harus ada filter.

    kebanyakan jaman sekarang anak-anak lebih cenderung fokus kekehidupan mereka di internet dan nggak begitu peduli sama kehidupan mereka yg asli. hilangnya kepekaan terhadap sesama, kedekatan antar keluarga yg renggang akibat majunya teknologi.
    memang harus ada filter, dan orang tua harus tanggap juga

    Suka

    1. Benar. Saya setuju sekali dengan pendapat anda. Era digital memang membuat orang menjadi kurang peka terhadap lingkungan sekitar.

      Kita memang harus baik2 dalam memanfaatkan fasilitas

      Suka

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s