Jebakan Puisi – Logika Gagal


Kembalikan Indonesia Padaku

kepada Kang Ilen

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt, sebagian berwarna putih dan sebagiann hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan

Indonesia

padaku

Puisi di atas terdapat dalam simulasi UN Bahasa Indonesia SMA terbitan Erlangga tahun 2011. Terdapat tiga pertanyaan yang sesuai dengan puisi di atas dan jawaban saya atas ketiganya salah semua.

Entah karena ketidakpintaran saya atau karena diri yang kurang peka menghadapi puisi.

Puisi memang susah untuk dimengerti (setidaknya bagi saya). Puisi mengandung kode-kode dalam bentuk susunan kata terindah yang harus ditafsirkan oleh pembacanya. Jujur, saya paling benci menghadapi puisi. Tidak membenci yang sebenci-bencinya. Melainkan perasaan gemas ketika berhadapan dengan puisi. Pelajaran Bahasa Indonesia yang paling tidak saya kuasai adalah tafsir puisi. Selebihnya hanya perlu ketelitian dan ketelatenan untuk mengerjakan soal.

Puisi oh puisi. Kenapa kau begitu sulit untuk dibaca. Maksud saya, sulit sekali untuk memahami apa makna puisi tersebut. Mungkin membutuhkan waktu lama untuk memikirkan makna dari sebuah puisi yang baru saja dibaca. Atau bahkan dalam waktu lama itu pun tidak bisa menemukan apa maknanya. Berlebihan memang. Tapi begitulah adanya. Tapi bagaimana pun, sebenci apapun terhadap puisi, puisi tetaplah salah satu karya sastra yang harus diacungi jempol. Menurut saya pribadi, puisi bisa menggambarkan isi hati, fenomena, kejadian, dan lain-lain. Pembuatan puisi pun harus dari lubuk hati terdalam. Karena perasaan dalam hati si pembuat puisi itulah yang membuat puisi menjadi lebih bermakna. Mengguncang hati dengan susunan kata yang amat indah sudah cukup bagi penikmat puisi. Ini pendapat pribadi saya. Saya sendiri bukan penulis puisi atau penikmat puisi. Saya tidak bisa membuat puisi. Bisanya hanya membuat tulisan berupa cerpen, artikel, atau esai seperti ini. Penikmat? Bagaimana saya bisa disebut penikmat puisi jika memaknai satu kalimat dalam puisi saja saya tidak bisa?

***

Saya sampai malam ini masih heran dengan soal puisi beserti tiga pertanyaannya yang jawaban yang saya pilih salah semua. Tiga pertanyaan itu berupa makna kata, suasana, dan maksud puisi tersebut.

Pertanyaan pertama. Apa makna kata bola-bola lampu 15 watt. Menurut logika saya, makna kata tersebut adalah masalah yang datang silih berganti. Karena saya melihat kata selanjutnya berwarna putih dan hitam, menyala bergantian. Pilihan jawaban saya salah dan yang paling tepat adalah keadaan yang tidak dapat dipastikan. Guru saya mengatakan bahwa baris kedua dalam puisi tersebut bermakna tidak dapat dipastikan.

Pertanyaan kedua. Suasana dalam puisi tersebut adalah… Dari sini saya bingung lagi. Masalah suasana dalam puisi saya juga seakan tidak sampai ke logika saya. Hingga jawaban dikumandangkan. Ternyata jawabannya adalah kacau.

Pertanyaan yang ketiga sekaligus paling mengerikan. Apa maksud puisi tersebut? Berbicara tentang maksud puisi pasti yang dibahas makna yang terkandung dalam puisi tersebut. Jawaban yang tepat adalah mengingatkan bangsa Indonesia adanya kekacauan dan kemunafikan dalam pemerintah kita. Lagi-lagi saya gagal memilih jawaban yang tepat.

Inilah puisi. Salah satu karya sastra yang (sifatnya) menjebak saya. Logika saya seakan tidak sampai untuk puisi. Diri saya masih kurang peka berhadapan dengan puisi. Semua terasa lengkap bersatu menjadi gagal paham.

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s