Keikhlasan adalah Harta Kebersamaan


Kumpulan Cerpen

Keikhlasan adalah Harta Kebersamaan

“Seharusnya ini dibagi rata!” bentak salah satu orang sesenggukan.

“Ya gak bisa gitu dong?!” balas orang kedua dengan tak kalah kerasnya.

Ruang keluarga terasa penuh sesak. Teriakan demi teriakan tanpa satu pun yang berusaha melerai mereka yang sedang bertengkar. Banyak yang memilih untuk diam seribu bahasa. Melihat pertengkaran yang tak kunjung usai ini membuat ruangan ini semakin memanas saja.

“Sudah cukup!”

Seketika benda berbahan kaca terlempar begitu saja ke lantai. Semua orang mendadak diam. Hening untuk sesaat. Tak lama kemudian si pelempar benda kaca itu meninggalkan ruangan. Terlihat seorang anak kecil yang mengikut dari belakang.

“Ayah mau kemana? Tadi kenapa bude bisa marah-marah gitu?” Anak kecil bertanya dengan polosnya ke si pelempar kaca. Nampak sebagai seorang ayah, orang itu menggendong anaknya yang masih belia.

“Gak papa sayang. Bude-budemu cuman lagi olahraga.” Jawabnya sambil mengelus rambut si anak. Anak itu berlahan tersenyum. Seperti menganggap semuanya tidak ada yang perlu diperhatikan.

***

Rahman, anak terakhir dari empat bersaudara. Memiliki kakak yang ketiganya adalah perempuan. Saat ini keluarganya seperti di ambang kehancuran. Ia menghelai nafas panjang.

“Aku tidak menyangka sepeninggal ibu semuanya jadi seperti ini.” Rahman berpikir keras. Bagaimana caranya supaya ia bisa melerai ketiga kakak perempuannya yang sedang memperebutkan harta warisan orang tua. Padahal jika dipikir-pikir, mereka semua sudah memiliki kehidupan yang mapan. Tidak ada yang kurang dari hidup mereka. Terbukti dengan pengeluaran kakak-kakaknya yang memang hobi belanja. Hanya dirinya saja yang dalam ekonomi tidak terlalu mapan. Namun Rahman tetap bersyukur dengan apa yang dimilikinya.

Ayah telah meninggal jauh sebelum ibu. Sudah sekitar enam tahun lalu. Beliau meninggalkan Rahman dan kakak-kakak Rahman, serta ibunya yang sudah menyusul sakit-sakitan. Tak lupa dengan cucu-cucu dari anak-anak ayah. Ayah meninggalkan harta yang tidak sedikit dan sekarang dijatuhkan kuasanya terhadap ibu. Siapa sangka kini keluarga besar memperebutkan harta warisan. Sungguh ironis.

“Ayaaaahhh!” Teriakan itu membuyarkan lamunan Rahman sedari tadi. Rahman tersenyum. Didapati anak perempuannya berlari kecil ke arahnya. Rahman langsung menggendongnya. “Ayah! Gimana kalo kita pergi ke rumah bude Rara?” ujar Lisa, anaknya dalam gendongan. Melihat tatapan memohon Lisa membuat Rahman tak tega untuk menolak permintaan itu.

“Baiklah! Kamu bisa bermain dengan Mbak Laras dan Ali yak an?” ujar Rahman. Lisa mengangguk mantap. Lisa memang dekat dengan hampir semua saudara sepupunya. Di kala berkumpul, Lisa selalu bermain dengan mereka dengan riangnya. Inilah yang amat disayangkan Rahman jika keluarganya akan terpecah belah.

Rahman mengendarai sepeda motor dengan kecepatan biasa. Menggandeng Lisa membuat ia harus memelankan kecepatan. Sekitar lima belas menit perjalanan, mereka berdua telah tiba di rumah Rara, kakak ketiga Rahman. Jarak rumah antar keduanya tidak sampai menembus luar kota. Masih dalam satu kota, membuat Rahman dan Lisa sering mampir ke sini.

“Mau apa kamu kesini?” ujar Rara dingin. Rahman dan Lisa kaget. Berlahan Lisa membenamkan diri memeluk ayahnya. Lisa mendelik takut. Wajah Bude Rara nampak seperti orang marah baginya.

“Lisa ingin bermain dengan Laras dan Ali. Itu saja.” Ujar Rahman dengan ramah. Seperti tengah merendamkan gejolak api dengan air. Namun nyatanya itu tidak berhasil merubah sikap Rara.

“Lisa dan Ali sedang sakit. Sebaiknya kalian pulang saja.” Rara menjawab singkat. Lalu menutup pintu dengan keras di hadapan Rahman dan Lisa. Rahman menghelai nafas. Sementara Lisa terlihat ingin sekali meneteskan air mata. Matanya sudah berkaca-kaca sedari tadi.

Dengan terpaksa, Rahman dan Lisa kembali pulang dengan kekecewaan. Sepertinya hubungan kekerabatan semakin tanpa ikatan saja. Bahkan hanya anaknya yang ingin bermain dengan sepupunya. Itu sudah tidak boleh. Lisa bahkan tidak bisa membentung air matanya tatkala melihat Laras dan Ali mengintip dari balik jendela rumah mereka. Mereka nampak menangis dan melambaikan tangan kepada Lisa. Tanpa sengaja Rahman melirik apa yang terjadi. Hatinya seperti terbebani melihat pemandangan ini. Apa karena perebutan harta warisan seperti ini sampai anak-anak mereka dilibatkan? Sayang jika hubungan kekeluargaan ini harus terputus begitu saja karena harta.

Rahman sedikit menghibur Lisa. Dibelinya es krim yang berada tepat di depan rumah Rara. Lisa sedikit senang dengan hal itu. Ketika semua sudah usai, Rahman dan Lisa pulang ke rumah.

Es krim itu masih belum tersentuh itu tetap di tangan Lisa. Sepanjang perjalanan Lisa melamun. Tatapannya menunjukkan bahwa ia tengah bersedih. Di tengah perjalanan itu ia melihat ada seorang anak lelaki terduduk lemah di pinggir trotoar. Anak itu nampak mengenakan pakaian lusuh dan banyak sobekan di sana-sini. Lisa langsung menyuruh ayahnya untuk berhenti.

“Ada apa nak?” tanya Rahman saat memarkirkan sepeda motornya di tempat yang ditunjuk anaknya. Lisa langsung turun dengan lincah. Sejurus kemudian sebungkus es krim ia berikan kepada anak yang dilihatnya tadi. Rahman yang menyaksikan hal itu langsung berjalan mendekat.

“Kenapa kamu berikan es krimmu padanya?” tanya Rahman seolah-olah tidak menyetujui apa yang anaknya lakukan. Padahal sesungguhnya tindakan anaknya itu benar-benar disukainya. Ia bahkan jarang untuk berbagi seperti itu kepada orang lain.

Lisa tidak menjawab. Sekilas es krim itu sudah berpindah tangan ke anak lelaki itu. Dengan sigap anak itu langsung bahagia seraya berterimakasih kepada Lisa. Lisa tersenyum. Ia menyuruh anak yang belum dikenalnya itu untuk memakannya. Lisa duduk dihadapan anak yang sudah dalam aktivitasnya melahap sendok demi sendok es krim. Tak berapa lama, Lisa justru asyik bercengkerama dengan anak itu. Seperti mengobrol dengan asyiknya seperti kawan lama yang berjumpa. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa Rahman sedari tadi di dekat mereka dan memperhatikan.

Setelah selesai, Lisa berpamitan. Tak lupa melambaikan tangan tanda perpisahan seperti maklumnya apa yang orang-orang dewasa lakukan.

“Kenapa kamu memberikan es krimmu?” tanya Rahman lagi.

“Oooh itu.” Lisa seperti teringat. “Aku cuman mau berbuat baik, Yah!”

“Beneran tidak ada alasan lain?”

“Cuman sekedar memberikan apa yang kita miliki, ayah. Karena kalau dipikir-pikir, yang kita miliki belum tentu adalah benar-benar milik kita.” Lisa menjawab mantap. Senyum mengembang di wajahnya. “Kalau kita ikhlas memberikan apa yang kita miliki, justru kebersamaan akan hadir tanpa ada permusuhan.”

Rahman sedikit terperangah dengan apa yang terucap dari anaknya barusan. Seorang anak umur masih delapan tahun pun juga turut mengerti indahnya kebersamaan. Rahman tersenyum. Seketika itu juga ia menemukan ide.

***

Berkas-berkas telah lengkap Rahman kumpulkan. Ia sudah membuat janji dengan ketiga kakak perempuannya di jam siang. Sekitar pukul satu, mereka sudah lengkap berkumpul di ruang keluarga. Tepatnya di rumah mendiang orang tua mereka dahulu yang katanya hampir dijual oleh salah satu kakak Rahman. Beruntung sertifikat rumah sudah direbut oleh Rahman sehingga aksi tersebut tidak terjadi.

“Aku sebagai yang termuda dari kalian hanya ingin memberikan ini.” Rahman berkata tanpa basa-basi. Ia sudah siap dengan reaksi kakak-kakaknya.

Benar saja. Mereka bertiga menjerit keras. Seakan menyalahkan apa yang telah adiknya lakukan. Mereka meneriaki Rahman dengan penuh kemarahan. Rahman diam dengan santai. Tidak menanggapi.

“Karena tidak ada yang diperebutkan. Jadi kita tidak sepatutnya mengorbankan kebersamaan keluarga kita untuk uang.” Rahman hanya memberi sebaris alasan. Namun itu semua tidak cukup untuk menghentikan amukan mereka.

“Tidak ada gunanya kalian berteriak seperti itu. Tidak ada gunanya. Toh semua uang ayah dan ibu kita tidak akan pernah kembali. Bersyukurlah dengan apa yang kalian punya sekarang. Uang itu bisa dicari tetapi keluarga tak bisa terganti oleh apapun.”

Seketika seisi ruang adalah hening. Mereka diam seribu bahasa ketika mendengar satu kalimat terakhir yang terucap dari Rahman.

“Ayolah, mbak-mbakku, dulur-dulurku, orang tua kita tidak pernah menginginkan hal ini. Ayah dan ibu sudah menyayangi kita sepenuh hati. Tapi apa yang kita balas untuk mereka? Apakah dengan cara seperti ini.” Ucap Rahman di tengah keheningan.

“Mari kita jadikan harta ayah dan ibu menjadi berkah dan aliran pahala untuk mereka. Juga kita doakan ayah ibu kita yang telah menyayangi kita hingga menjadi seperti sekarang.” Rahman berujar untuk terakhir kali pada pertemuan kali ini. Terlihat kakak-kakaknya yang sedari tadi menunduk kini sedikit sesenggukan. Tak lama, isak tangis membuncah di ruangan itu. Tatap demi tatap terlempar tanpa sadar menuju foto mendiang ayah dan ibu di sekitaran dinding ruang keluarga. Terdapat foto keluarga besar. Ada ayah, ibu, dan keempat anaknya dengan senyum penuh kebahagiaan. Itu adalah keluarga Rahman dan ketiga kakaknya. Tangis semakin ramai terdengar. Rahman juga nampak berkaca-kaca. Sebagai laki-laki, ia juga masih manusia biasa. Tetap bisa menangis karena sebuah alasan.

Semua permusuhan seakan melebur menyatu dengan kebersamaan. Mereka baru menyadari bahwa keluarga adalah harta paling berharga. Mungkin begitulah yang orang tua mereka cita-citakan bagi keturunannya.

Apa yang terjadi dengan harta itu kini? Seluruh harta peninggalan orang tua Rahman sudah Rahman sumbangkan ke beberapa panti asuhan dan yayasan pesantren di kota. Sumbangan itu sendiri sudah berbentuk bahan baku siap pakai jadi meminimalisir adanya penggelapan uang. Pemberian sumbangan ini juga disertai nota bukti penerimaan dan berkas-berkas resmi lainnya. Di ruangan keluarga itu, Rahman cukup memberikan berkas-berkas dan nota kepada ketiga kakaknya. Usaha yang dilakukan Rahman selama dua minggu sudah membuahkan hasil. Keluarganya sudah nampak akur seperti dulu. Nampak Lisa sedang bermain dengan Laras, Ali, dan sepupu-sepupu yang lain.

Iklan

1 thought on “Keikhlasan adalah Harta Kebersamaan”

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s