Kemarin


Untitled

Kemarin, aku baru saja menyelesaikan bacaanku terhadap sebuah novel. Novel itu adalah novel pinjaman. Aku membacanya secepat yang aku bisa untuk segera mengembalikannya. Sebelum kukembalikan, aku sempat menulis resensinya untuk dimuat di blogku.

Novel itu berjudul Api Tauhid karya Habiburrahman El Shirazy. Novel yang penuh inspirasi.

Novel Api Tauhid adalah novel sejarah. Dan jelas saja aku menyukainya. Aku menyukai cerita sejarah yang dikemas dalam bentuk novel seperti ini. Menurutku, penuturan sejarah yang seperti buku pelajaran pada umumnya adalah monoton. Membuatku enggan membukanya. Bahkan mungkin ketika membaca beberapa halaman rasanya sudah ingin tidur saja.

Setelah aku membeli dan membaca novel karya Felix Siauw tentang Sultan Muhammad Al Fatih, kali ini aku bisa mengenal Badiuzzaman Said Nursi dalam novel Api Tauhid. Salah satu ulama di zaman khilafah Turki Utsmani. Said Nursi lahir di desa Nurs, salah satu kawasan d Turki. Dengan tingkat kecerdasan dan hafalan yang luar biasa, ia dijuluki gurunya dengan sebutan Badiuzzaman atau berarti keajaiban zaman. Bayangkan saja, di umur 15 tahun, ia sudah bisa menghafal puluhan kitab karya ulama-ulama senior. Kecerdasannya dalam memahami dan mempelajari kitab-kitab fiqih membuat Badiuzzaman Said Nursi mampu mengalahkan ulama-ulama senior.

Bukan mengenai kecerdasaannya yang luar biasa, beliau sejatinya adalah pecinta ilmu. Di umur 9 tahun,  ia sudah ingin mencari ilmu sama dengan kakaknya. Padahal syarat minimal untuk dapat masuk pesantren adalah berusia 12 tahun. Keinginan kuatnya untuk mendalami ilmu itulah yang membuat Said Nursi nekad berkelana dari desa ke desa, dari satu ulama ke ulama lainnya, untuk belajar ilmu daripadanya. Badiuzzaman Said Nursi mulai menghafalkan Al Quran pada usia 20 tahun. Puluhan kitab yang telah dipelajarinya selama ini adalah untuk mengetahui keajaiban Al Quran.

Belum lagi mengenai perjuangan Said Nursi ketika khilafah Turki Utsmani mulai runtuh hingga Turki berada dalam masa kegelapan Islam. Allah menyiapkan hamba pilihanNya untuk menyelamatkan Islam di atas bumi. Salah satunya adalah dengan Badiuzzaman Said Nursi. Kala itu, apapun mengenai Islam dilarang keras untuk dilakukan. Baik dalam membaca Al Quran, berbicara bahasa arab, adzan dengan bahasa arab, solat, dan bahkan hal-hal mengerikan lainnya. Namun Badiuzzaman menggunakan senjata yang tajamnya melebihi pedang namun tak terlihat mata. Ialah Risalah Nur, tulisan karya Said Nursi yang menjadi lentera penerang di bumi Turki di tengah kegelapan iman. Meski hanya sembunyi-sembunyi.

Hmmm. Cerita yang begitu menginspirasi.

Baik Muhammad Al Fatih maupun Badiuzzaman Said Nursi adalah orang-orang yang berpengaruh penting bagi sejarah Islam. Jika Muhammad Al Fatih adalah sosok pemimpin penakluk Konstantinopel (sekarang Instanbul). Badiuzzaman Said Nursi adalah ulama yang menyelamatkan peradaban Islam di bumi dengan kesungguhan tekad. Karakter mereka benar-benar terbentuk ketika masih muda. Pencapaian ridho Allah dan Rasulullah adalah yang paling utama. Inilah yang perlu aku contoh sebagai teladan.

Ini bener-bener keren. Rasanya ingin mendapatkan novel bertemakan sejarah seperti itu lagi. Sejarah yang dibalut dengan kisah dan dikemas dalam sebuah novel tidak akan membuat bosan untuk membacanya.

Terutama buat penulisnya yang begitu keren menulis karya seperti ini. Subhanallah. Semoga berkah untuk semuanya.

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s