Aura Kepribadiaan


Baru selang beberapa minggu semenjak saya menjalani waktu menjadi santri sekolah menengah atas berbasis islam. Beberapa guru di sekolah ada yang mengenali saya. Memang saya bisa dibilang salah satu ‘penghuni lama’ di tempat ini. Sebelumnya saya memang bersekolah di sekolah menengah pertama lalu dilanjutkan ke menengah atas yang di bawahi oleh satu naungan lembaga pendidikan yang sama. Dan karena di bawah naungan lembaga pendidikan yang sama inilah membuat sekolah-sekolah ini berada di satu lokasi yang sama pula.  Jadi memang sewaktu saya masih SMP dulu, saya pernah mengunjungi SMA ini yang nyatanya menjadi sekolah saya sekarang.

Sewaktu pertama kali masuk sekolah. Tepat hari Senin bertanggal 8 Juni 2013, saya bertemu dengan wajah-wajah baru di sana. Walaupun wajah-wajah lama teman saya sewaktu SMP dulu juga masih ada. Kami yang alumni SMP satu lembaga sekarang hanya sekedar minoritas saja di SMA. Kebanyakan memang berasal dari sekolah negeri. Banyak yang kaget dengan keadaan SMA yang jauh dari bayangan sekolah mereka di masa lalu. Sekolah negeri terkenal dengan kelas heterogen yang artinya laki-laki dan perempuan dicampur dalam satu kelas. Dan isi kelas pun luar biasa banyak sehingga terjadi keramaian kelas yang seakan seperti berada di tengah-tengah pasar. Dan bentangan kelas dari kelas abjad A sampai sekian yang memuat banyak sekali anak sehingga bahkan mereka sendiri sampai tidak mengenal teman-teman satu angkatan mereka sendiri. Dan saat mereka menjadi santri di sekolah ini, mereka sedikit tercengang dengan jumlah teman baru yang bisa dihitung dengan hitungan jari. Berbeda jauh dengan sekolah negeri ala mereka dulu.

SMA saya masih tergolong baru. Angkatan saya sendiri adalah angkatan ketiga sekolah yang baru berdiri dua tahun lalu ini. Sekilas sekolah baru saya sederhana. Satu ruang guru atau kantor ukuran 2×5 meter dan empat ruang kelas untuk santri-santrinya yang perkelasnya homongen. Artinya dipisah antara laki-laki dan perempuan. Untuk tahun lalu, empat kelas sudah cukup untuk menampung dua angkatan yang terdiri dari kelas X1, X2, X! IPA1 dan XI IPA2. Untuk angkatan pertama memang terdapat kelas IPS namun hanyalah sekumpulan minoritas yang sedikit sekali santri yang memilih jurusan ini. Seringkali mereka outdoor untuk ajar mengajar karena memang saking sudah tidak adanya kelas bagi mereka. Berhubung dua angkatan lalu terdesak oleh angkatan saya masa kini. Akhirnya salah satu dari mereka mengalah dan berpindah kelasnya. Entahlah. Mereka pikir sekolah ini semegah yang mereka pikirkan. Ternyata…

Beberapa hari pertama masuk sekolah saya gunakan untuk berkenalan dengan teman-teman baru. Entahlah sekedar mengobrol atau seperti apapun yang saya katakan waktu berhadapan dengan mereka yang masih belum begitu kenal. Semakin hari pun watak-watak mereka mulai terlihat jelas. Walaupun mereka belum banyak bertingkah namun saya seakan mampu membaca keadaan sekitar. Dan sampai sekarang pun dugaan saya benar. Sifat mereka memang sama persis dengan yang saya duga sebelumnya. Kebanyakan tidak terlalu cocok dengan saya. Mungkin karena masih belum terlalu akrab dan saling mengenal.

Namun, di antara mereka semua. Ada dua orang anak yang saya kagumi sejak awal bertemu. Entahlah. Mereka semacam memancarkan sesuatu yang berbeda dari teman-teman kebanyakan. Mereka berbeda. Itu yang saya rasakan saat melihat mereka. Hanya melihat. Dan akhirnya saya mencoba mendekat dan mengobrol dengan mereka berdua. Dari cara mereka berdua mengobrol pun saya mulai bisa menangkap watak mereka berdua.

Teringat dulu ketika masih dalam masa orientasi sekolah selama seminggu. Saya kebetulan bersama mereka berdua lagi. Sebenarnya sedikit ada ketersengajaan hingga saya bisa jalan bersama mereka. Kita ingin solat dhuha seperti yang diperintahkan salah seorang guru kepada kami waktu itu. Saat teman-teman lain malah kabur entah kemana. Saya malah terdiam di sana karena memang hendak solat. Sedikit bingung karena memang saya diam sendirian. Seklias saya lihat dua anak itu tidak ikut kabur bersama teman-teman yang lain. Seulas senyum pun tersungging manis di wajah saya sembari menghapiri mereka berdua.

“Gak pengen solat kah?” tanyaku kepada mereka berdua. Berharap jawaban ‘iya’ adalah jawaban yang akan kudengar.

“iya pengen. Cuman gimana kalo pindah saja? Jangan di sini.” kata salah seorang dari mereka berdua. Memang kondisi saat ini kami bertiga berada di masjid sekolah. Di sini penuh dengan jamaah putra yang hendak solat dhuha berjamaah. Saya pun berpikir juga sepertinya sungkan dan malu juga jika harus solat sendiri di sini. Akhirnya kita memutuskan untuk pindah ke tempat lain yang penting solat dhuha bisa terlaksana.

Kita berjalan beriringan hingga sampai di mushola kecil yang berada di tengah-tengah kompleks sekolah. Kami bertiga solat disitu. Saya ditunjuk sebagai imamnya. Setelah selesai solat kami bertiga pun terdiam. Saya sekilas sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan mereka berdua. Dan saya mencoba menoleh ke belakang kepada mereka yang menjadi makmum saya. Saya lihat apa yang mereka lakukan. Menengadahkan tangan sembari berdoa dengan wajah penuh kekhusyukkan. Hatiku tersentuh melihat semua ini. Melihat apa yang mereka berdua lakukan. Dan saya bagaimana saya bisa berdekatan dengan orang-orang yang memiliki keimanan yang tinggi seperti mereka sehingga saya bisa meniru mereka. Meniru ketaatan mereka kepada Allah yang jelas-jelas terlihat dari raut wajahnya.

Saya teringat dengan sebuah pernyataan bahwa sifat seseorang dapat dilihat dengan siapa dia berteman. Selama ini, kadang saya merasa keimanan saya kurang kuat. Sering jatuh bangun sudah menjadi semacam rutinitas. Padahal lihat sekeliling saya, siapa mereka? Mereka yang taat terhadap Allah. Memiliki iman yang begitu luar biasa dan itu semua berbalik dari saya, yang begitu rapuh iman. Tapi inilah rezeki Allah untuk saya. Saya mampu berkumpul dengan orang-orang beriman seperti mereka. Ketika melihat mereka, saya merasa semangat kembali dalam mengelola iman yang kadang tak pasti ini. Mereka lah inspirator saya dalam memperbaiki keimanan saya walau mereka sendiri tidak menyadarinya. Walaupun jujur saya selalu minder di hadapan orang-orang saleh beriman kuat seperti ini. Namun, saya tetap belajar dan berjuang untuk keimanan saya sendiri.

 

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s