Undangan Maut


Saya sempat teringat pada masa lalu saya. Entah ketika saya memang masih kanak-kanak atau seperti apa. Saat itu saya menginjak bangku kelas 8 SMP. Masa-masa sekolah menengah pertama yang benar-benar menyenangkan. Sekilas seperti itulah yang saya rasakan. Berbagi kebahagiaan bersama teman-teman saya yang baru-baru ini akrab. Semua keceriaan selalu ada di dalam kelas. Di sekolah tercinta.

Kelas 8 merupakan masa pertengahan dalam perjalanan saya dan teman-teman melintasi sekolah menengah pertama ini. Banyak sekali cerita-cerita yang berhasil kami torehkan selama setahun yang lalu saat kami masih kelas 7. Salah satu cerita yang memang tak kalah penting adalah cinta. Sebuah perasaan dalam hati yang tidak bisa diungkapkan. Sebuah perasaan yang seringkali muncul dalam hati secara tiba-tiba.

Sekilas teman-teman merasakan hal itu. Jatuh cinta. Saya pun hanya terdiam ketika teman-teman mulai melakukan kebiasaan utama perempuan tentang membicarakan lawan gender. Waktu itu saya hanya cuek-cuek saja. Selama ini saya tidak pernah mau untuk mempedulikan apapun berita-berita percintaan yang sering berseliweran di sekolah. Seringkali saya begitu telat untuk mengetahui gosip panas yang lagi santer beredar dari mulut ke mulut di sekitar sekolah. Hmmm. Bisa dibilang saya ini no update dalam masalah yang begituan. Selain bagi saya hal itu tidak menarik, saya juga tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Itu urusan orang lain dan bukan urusan saya, pikir saya dulu.

Suatu hari, di pertengahan semester kelas 8. Guru Bahasa Jawa, Pak Eko, memberikan kami tugas yang terbilang konyol dan entahlah bagaimana. Pak Eko menyuruh kami sekelas untuk membuat undangan pernikahan dalam bahasa jawa. Seketika itu juga seisi kelas riuh. Pak Eko bilang bahwa ini digunakan untuk penilaian tugas semester. Entah apa yang dipikirkan Pak Eko mengapa kami harus membuat dan mengerjakan tugas sekonyol ini. Dan tepat dalam seminggu saat pelajaran Bahasa Jawa tugas ini harus selesai dan dikumpulkan.

Minggu depan setelah berkumandangnya tugas konyol itu. Tepat menginjak hari Kamis. Saya masih kebingungan dengan siapa nama calon yang akan saya tulis di tugas undangan nanti. Teringat kata-kata Pak Eko minggu lalu, “Jeneng calon kudu tenanan sing ditulis. Lek nulis jeneng ngawut engko bojone entok ngawot.” (Nama calon harus asli yang ditulis. Kalau asal-asalan menulis nama nanti calonnya dapat yang asal-asalan juga). Wow. Pak Eko terus mengatakan bahwa undangan itu juga ibarat doa. Kalau semisal asal-asalan menulis nama maka jodohnya nanti juga akan asal-asalan. Saya yang dulu begitu polosnya merasa ngeri-ngeri sendiri membayangkannya.

Kamis sore saya mulai kehabisan akal. Saya kocar-kacir kebingungan nama siapa yang akan saya tulis untuk menjadi calon saya. Selama ini saya tidak mengenal laki-laki manapun. Kenal pun mungkin hanya sekedar nama. Tidak pernah tahu nama lengkapnya. Apalagi nama ayahnya. Dan akhirnya saya mendapat ilham untuk menulis nama calon di undangan saya karena teringat seseorang. Seseorang tidak bisa dianggap teman maupun berkenalan. Hanya memang sejak kecil kami sering bertemu. Dan saya kenal dekat dengan keluarganya. Jadi saya tahu nama lengkapnya dan nama bapaknya. Tanpa pikir panjang akhirnya langsung saya tulis nama saya dan wali saya beserta nama orang itu beserta nama bapaknya sebagai walinya. Entahlah apa yang akan terjadi. Saya pikir hanya meminjam nama saja untuk tugas karena penting. Tidak masalah kan?

Mencetak sebuah undangan ke pencetak tidak memakan waktu lama. Malamnya tugas saya sudah diantar ke rumah. Kebetulan rumah saya dengan si pencetak undangan memang berdekatan. Semacam tetangga satu lingkungan. Hati saya lega dengan kedatangan tugas konyol itu yang sudah benar-benar telah selesai tercetak dalam bentuk ala undangan resmi dan sudah ada di tangan saya. Saya masih ingat betul undangan itu. Berbahan karton tebal dengan desain undangan berwarna ungu dengan sepasang cincin emas pada kover depannya. Sempurna! Inilah yang kupikirkan malam itu.

Semula yang awalnya saya pikir biasa-biasa saja ternyata menjadi bencana terbesar bagi hati saya. Esok harinya teman-teman terkejut dengan nama calon yang tertulis di undangan saya. Mereka semua mengenal sosok itu. Sosok kakak kelas satu tingkat di atas kami. Sewaktu membuat undangan itu kami kelas 8 sedangkan dia kelas 9. Entahlah. Saya biasa-biasa saja menanggapi keterkejutan teman-teman saya. Yang terpenting tugas konyol saya sudah selesai.

Semakin hari teman-teman mengolok-olok saya dengan nama calon yang dulu tertulis di tugas konyok saya. Saya menjadi bingung-bingung sendiri. Mereka ini kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa hanya karena undangan jadi gosip yang tidak mendasar seperti ini? Hingga akhirnya makin lama makin aneh rasanya. Hati semakin lama semakin tak enak dirasakan. Ternyata undangan itu membuat sesuatu yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Saya kepincut. Saya jatuh cinta juga ya. Hehe

Sosok yang namanya saya pinjam untuk tugas konyol itu sekararng entahlah dimana rimbanya. Dulu saya sering melihat dia tapi sekarang tidak lagi. Hanya melihat saja. Tidak pernah lebih dari itu. Saya memendam perasaan saya dan dia mengetahui apa yang saya pendam. Memang gosip itu tidak pernah terdengar menyenangkan untuk didengar dan dirasakan. Apalagi ketika saya benar-benar menjadi objek gosip saat itu. Walaupun demikian saya tidak mempedulikannya. Saya anggap mencintai itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Semua orang pasti pernah merasakannya. Walaupun entah sosok itu mencintai siapa sampai sekarang. Saya tidak pernah mengetahuinya. Yang saya tahu hanya perasaan saya kepada sosok itu. Tanpa mengharap apapun darinya. Hanya merasakan perasaan saja. Hehe

Dan mungkin tugas konyol itu sampai di sini saja. Hanya sekedar saya merasakan jatuh cinta. Ya itu saja. Jangan sampai menjadi kenyataan karena saya sendiri tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. Dan saya tidak ingin hal itu terjadi. Entahlah. Undangan maut itu kini masih ada di tangan Pak Eko dan saya suruh beliau untuk menyimpannya saja.

 

*Pak Eko(nama samaran)

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s