Sovenirku


Gambar di atas adalah sovenir-sovenirku dari luar negeri maupun dari luar kota. Bagaimana? Cantik kan?! Saya juga selalu pesan kepada orang tua saya yang ingin berpergian ke luar kota atau luar negeri. Bila di luar kota saya hanya pesan oleh-oleh seadanya saja. Tapi, bila ke luar negeri saya selalu pesan oleh-oleh berupa gantungan kunci. Menurut saya, oleh-oleh gantungan kunci itu menarik karena ada tulisan negaranya.

Saya mendapatkan oleh-oleh antara lain dari negara Philipina, Tokyo, Arab, dan yang terakhir dari Singapura. Sisanya yang lain dari luar kota. Mari saya jelaskan tentang suvenir yang saya dapatkan…

Pertama adalah sovenir dari Arab. Itu saya dapatkan setelah orang tua saya menunaikan ibadah haji. Saya pesan oleh-oleh yang banyak dari sana. Saya juga pernah minta mata uang Arab sisa uang saku mereka. Tapi, orang tua saya tidak bisa menyisihkannya. Kedua adalah oleh-oleh dari Philipina. Ole-oleh yang berupa gantungan kunci tersebut saya dapatkan dari teman laki-laki saya yang mengikuti Jambore Internasional. Saya kira mereka ngga’ akan memberikan saya oleh-oleh karena tahun lalu saya ngga’ memberikan oleh-oleh dari Arab. Yang ketiga adalah oleh-oleh dari Tokyo. Itu adalah oleh-oleh dari teman kuliah Ibuk saya dulu yang dia sekarang tinggal di Tokyo. Yang terakhir adalah oleh-oleh dari Singapura. Oleh-olehnya lumayan banyak. Saya kebagian lumayan banya oleh-oleh. Alasan Ibuk saya ke Singapura karena beliau menemani Budheku mengobati anaknya yang mengalami penyakit langka. Penyakitnya adalah bentuk kaki yang berbentuk X. Kasihan lho. Saat ini anaknya Budheku (bisa dibilang Kakak sepupuku) tidak bisa berjalan lagi. Makanya dia berobat ke Singapura.

Sekian dahulu tulisan saya. Semoga ada yang bermanfaat dari ratusan kata yang tulis di atas. 🙂

Belum pernah terpikirkan

Saat saya berangkat ke sekolahku, SDI Al-Munawwar Tulungagung jam 06.30 pagi. Saya berangkat diantar Abah naik motor. Sebenarnya saya bisa jalan kaki atau naik sepeda untuk menuju ke sekolah. Tapi, saya ngga’ punya sepeda dan saya ngga’ mau jalan karena takut terlambat ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, seperti biasa teman-teman saya berebutan meminjam handphone saya yang seperti Blackberry. Tapi, handphone saya yang baru bermerek Nexian 6911 yang disponsori oleh Indosat. harganya Rp.960.000.00,-. Lumayan kok. Bisa buat ngenet.

Bel sekolah berbunyi. Saat masuk kelas tiba, pelajaran pertama dan kedua pun dimulai dan berakhir sampai bel istirahat berbunyi. Setelah bel istirahat sekolah berbunyi, teman-teman perempuan mulai meminjam handphone saya. Sebagiannya lagi selalu njajan. Mereka biasanya beli pentol, jajan, es minuman sachet, dll. Pokoknya banyak deh. Teman-teman saya yang membeli jajan kebanyakan beli di rumah mbak Dina di dekat sekolah. Saya pun juga ngga’ ketinggalan untuk njajan bersama teman-teman.

Nah ini dia obrolan teman-teman saya ngga’ pernah terpikirkan di benak saya. Saudara sepupu laki-laki saya yang bernama Rifki, ngobrol dengan teman perempuan saya yang bernama Tifa. Mereka mengobrol tentang hujan yang akan terjadi karena langit saat itu sedang mendung. Obrolan mereka bisa saya dengar karena bangku mereka berdua ngga’ jauh dari bangku saya. Obrolan mereka seperti ini :

Rifki : Mugo-mugooo engko pas mulih udan.
Tifa : Peh penak yo lek seumpomone udan duit.
Rifki : Wegah aku lek udah duit. Engko toko-toko bodho tutup, mati engko.
Tifa : Oiyo yo, yo wis le ngono udan duite leng lingkungan omahku ae.

Seperti itulah obrolan mereka. Saya memang selalu berpikir kalau hujan uang betulan seperti hujan deras itu menyenangkan. Tapi ternyata akan berdampak buruk bagi dunia.Karena ngga’ akan lagi orang yang bekerja. Apalagi bekerja membuat makanan. Nanti kan bisa mengacaukan dunia.

Oiya lupa, obrolan diatas memakai B. Jawa. Kalau anda masih belum tahu apa artinya silahkan bertanya di kotak komentar ya… 🙂