Menghafal tapi Tidak Hafal Hafal

Hafalkan Meski Tidak Hafal-hafal

Tetap “ISTIQAMAH” menghafal, meskipun TAK HAFAL-HAFAL, barangkali lewat pintu itu, Allah Ingin memberikan banyak karunia-Nya…

Satu huruf Al-Qur’an satu kebaikan, dan satu kebaikan 10 pahala. Bagi yang kesulitan melafalkan, satu hurufnya dua kebaikan. Berarti setiap hurufnya 20 pahala. Semakin sulit semakin banyak. Kalikan dengan jumlah pengulangan anda.

Al-Qur’an, seluruhnya, adalah kebaikan. Menghafal tak hafal-hafal berarti Anda berlama-lama dalam kebaikan. Semakin lama semakin baik. Bukankah anda menghafal untuk mencari kebaikan.

Ketika Anda menghafal Al-Qur’an, berarti Anda sudah punya niat yang kuat. Rasulullah shallallahu alaihi wa salam menyebut 70 syuhada’ dalam tragedi sumur Ma’unah sebagai qari (hafizh), padahal hafalan mereka belum semua. Ini karena seandainya mereka masih hidup, mereka akan terus menghafal. Jadi, meski Anda menghafal tak hafal-hafal, Anda adalah hafizh selama tak berhenti menghafal. Bukankah hafizh yang sebenarnya di akhirat? Lanjutkan membaca “Menghafal tapi Tidak Hafal Hafal”

Iklan

Jangan Sampai Kita Terpecah Belah karena Perbedaan

*JANGAN HANCURKAN DAKWAH DENGAN SIKAPMU YANG NGAWUR DAN TIDAK DEWASA*

Renungan Gus Mus (KH MUSTHOFA BISRI)        

  

Saya kadang merasa aneh melihat saudara saya *umat Islam* yang memiliki sifat seperti anak-anak, ingin menang sendiri, mudah marah dan memaksakan kehendaknya agar orang lain sama dengan dirinya… Padahal Alquran sudah mengatakan untuk Berbuat Adil karena itu bisa mendekatkan kepada ketaqwaan…. Tapi begitulah sifat anak2 kadang tidak bisa menerima nasehat yang baik sekalipun untuk dirinya sendiri Lanjutkan membaca “Jangan Sampai Kita Terpecah Belah karena Perbedaan”

Pintu Neraka yang Ketujuh

*Rasulullah menangis bahkan pingsan saat Jibril mengungkapkan penghuni neraka yg ke-7* 🔥🔥🔥
Ketika itu Jibril datang kepada Rasulullah pada waktu yang tak biasa. Namun, Jibril terlihat berbeda. Raut wajah yang tak biasa.
Maka Rasulullah shallallahu allaihiwassalam bertanya:
“Mengapa aku melihat kau berubah muka (wajah)?” Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya”.
Lalu Rasullulah shallallahu allaihiwassalam bersabda:
“Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam”.
Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahanam, maka dinyalakan selama 1000 tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan 1000 tahun sehingga putih, kemudian 1000 tahun sehingga hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Lanjutkan membaca “Pintu Neraka yang Ketujuh”

Reach Your Dreams ala Wirda Mansur

Review Reach Your Dreams Wirda Mansur

Reach Your Dreams cover

Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.
Itulah salah satu slogan yang ditancapkan kuat-kuat oleh Wirda dalam bukunya yang berjudul Reach Your Dreams. Dalam bukunya, Wirda menyatakan jika ingin meraih apapun mimpi kita, dahulukan Allah yang Maha Kaya dan Maha Pemilik Segalanya di alam semesta ini. Lanjutkan membaca “Reach Your Dreams ala Wirda Mansur”

Santri Khilaf

Pada suatu hari, Ibuk memberikan bukti cintanya berbentuk kiriman jatah bulanan. Ibuk mengabari saya lewat Whatsapp. Siapa yang tidak senang dengan kabar gembira semacam ini.

Hari ini, Jumat, merupakan hari libur pondok. Ketika saya sedang bersantai sejenak melepas kesibukan hafalan, teman sekamar, Intan, mengajak saya ke toko buku Gramedia. Mata saya langsung berbinar senang. Kebetulan saya sedang ingin membeli buku Reach Your Dreams karya Wirda Mansur. Sedangkan Intan hanya ingin membeli buku LKS demi kebutuhan sekolah.

Lanjutkan membaca “Santri Khilaf”

Antara ه dan ك

PPTQ Nurul Furqon Malang memberikan warna tersendiri dalam perjalanan karier hafalan saya. Sebelum mondok, saya menyetorkan hafalan langsung dengan ustad atau ustadah secara empat mata. Ketika masuk pondok, saya dikejutkan dengan aksi setoran secara serempak empat orang sekaligus di hadapan Abah Yai. Empat orang ini melantunkan hafalan mereka secara bersamaan. Bahkan Abah Yai bisa menyimak sampai enam orang sekaligus. Saya bingung sekaligus heran. Bagaimana empat orang ini secara bersama-sama bisa membaca hafalan mereka dengan tanpa melihat mushaf. Bagaimana cara mereka untuk berkonsentrasi di tengah riuh bacaan teman di sampingnya. Belum lagi Abah Yai yang bisa menyimak banyak orang sekaligus. Sedang Abah Yai juga tidak sering membuka mushaf ketika menyimak santrinya. Entah bagaimana perasaan saya mengawali setoran di pondok ini. Setoran serempak dengan suara bacaan teman-teman lain yang bisa membuat hafalan buyar bila tidak berkonsentrasi. Semacam jor-jor suara dalam istilah jawanya. Dua bulan lebih hidup di sini, saya sudah terbiasa dengan sistem setoran seperti ini.

Suasana setoran hafalan Al Quran di PPTQ Nurul Furqon. Sumber foto dari salah satu santri

Lanjutkan membaca “Antara ه dan ك”

Kangen Rumah


Terhitung sudah dua bulan lebih beberapa hari saya berada di Malang yang berjarak lebih dari 100 km dari kota asal, Tulungagung. Meski dalam rentang waktu tersebut saya sempat pulang selama seminggu, tapi rasa itu tetap ada. Sebuah rasa kerinduan. Rindu segalanya tentang rumah. Baik suasananya, orang-orangnya, semuanya. Ah! Memang dasarnya saya anak rumahan. Jarang sekali keluar rumah. Jadi, berkumpul di rumah bersama keluarga kecil sudah menjadi santapan utama sehari-hari., Lanjutkan membaca “Kangen Rumah”